Professionalisme

Professionalisme manjadi hal penting khususnya dalam dunia berkarir. Karena di samping attitude, luck, chance, pengalaman dan pendidikan, profesionalisme juga bisa menjadi penentu apakah suatu perusahaan itu sukses atau tidak. Profesionalisme adalah tanggung jawab seseorang akan suatu pekerjaan yang diberikan olehnya. Masalah sehari2 yg sering kita hadapi di kantor/ ataupun dlm perkerjaan apapun amat sangat di pengaruhi oleh profesionalisme orang2 di dalamnya. Suatu tugas/pekerjaan tidak akan maju berkembang jika tidak di dukung oleh profesionalisme di semua pihak.

Menurut gw, di Indonesia profesionalisme masih sangat kurang. dengan demikian, pekerjaan yang harusnya sudah selesai sealama 1 minggu, bisa molor sampai 1 bulan. profesionalisme tidak bisa hanya di perform oleh 1 pihak, melainkan harus ditunjang oleh lingkungan yg memiliki visi dan misis yang sama terhadap suatu problem. Darimana kita menilai kualitas dari profesionalisme seseorang? hal ini bisa dilihat dari sesuai atau tidaknya perkataan yang dia ucapkan, tepat janji atau tidak dan bagaimana dia menangani masalah.

Dalam kehidupan sehari2 saja, diantara kita masih banyak sering berkata tidak sesuai dengan tindakan. Contoh: Gw pernah bikin janji sekedar ngopi2 dengan teman lama/baru, kita confirm misalnya jumat malam kita ketemuan di citoz. Pas hari jumat sore, saya coba confirm lagi ke mereka. Saya hanya memastikan apakah acara tersebut masih akan ada atau tidak. Salahnya, sengan saya konfirm tersebut, malah dijadikan ajang untuk membatalkan acara yang sudah bibuat jauh2 hari. Dari hal ini terlihat, jika hanya 1 orang yg bertindak profesional, sedangkan mayoritas tidak, maka akan sangat sulit bagi kita untuk maju. Ini baru dalam urusan hangout sama teman2, apa gi dlm sebuat multi million dollar project?

Gw bukanya naif or apa. Gw sendiri juga sering bertindak tidak profesional seperti itu. Gw cuma mengungkapkan, masalah SDM Indonesia yg ada skrng ini. Masalahnya selama dulu gw kuliah diluar, gw jarang banget menghadapi masalah2 seperti ini. Pas gw pindah lagi ke jakarta, kok gw merasa cancellation itu adalah sebuah hal yg biasa. Perlahan2 karena gw dikelilingi orang yg seperti ini, tanpa gw sadari gw jg turut berubah. Memang rumit  ya. Sekali lagi gw minta maaf jika ada pembaca yg tersinggung atas tulisan gw ini. Tapi thanks for stick around and read. hehehehe

2 Responses to “Professionalisme”

  1. Lussy Says:

    Nah itu bedanya orang Indonesia ama orang luar negeri, macam Australia, Amrik, Jepang atau Malaysia sekalipun. Kecenderungannya, dari masyarakat yang paling atas hingga bawah sudah terbiasa dengan sikap yang tidak disiplin. Mereka jarang sekali melaksanakan implementasi dari hasil perkataannya yang bikin mulut mereka berbusa-busa. Gimana ya, memang butuh waktu sih untuk mengubah budaya yang telah mendarah daging di kepribadian mereka. Yang penting sekarang, tunjukkin aja kalo kita gak seperti mereka. Be yourself no matter what they say …

  2. Steven Says:

    G setuju. Gaya hidup orang di Indonesia skrg, khususnya di Bandung tempat g tinggal & kerja, itu punctuality sangat rendah.
    Padahal seinget g waktu SMP ato SMA itu orang masih bisa marah2 kalo sampe ada yang ngaret 5 menit aja.
    Cuma sekarang kok jadi begini ya ?
    Bahkan ngga tanggung-tanggung, ngaret 1 jam aja itu orang sekarang masih minta dimaklumi.
    Cilaka, cilaka …

    Malah kalo di proyek, itu bisa jadi telat x hari itu adalah biasa.
    Cilaka, cilaka …

    Lebih parahnya lagi, Indonesia dikenal di L.N. ya begitu. Contohnya Garuda, itu sampai ada istilah “… terlambat itu biasa, tepat waktu itu luar biasa …”
    Ya, dan itu jg yg bikin Garuda & perusahaan lain di Indo pada mo bangkrut.
    Cilaka, cilaka …

    Jauh ama Jepang misalnya, kita semua pasti inget bahwa pernah ada kecelakaan kereta yg lepas dari rel trus nabrak apartement. Padahal untuk alasan, yang buat kita2 di sini cukup sepele : mengejar keterlambatan 2 menit. Jd masinisnya sengaja ngebut cuma gara2 itu …

    Jauh sekali ya, beda jiwanya dgn di Indo sini.

    Kuncinya sih satu …
    Kita-kita di sini masih lebih selfish. Jiwanya masih yg type2 survival. Mungkin karena di sini terlalu lama dijajah ya: 350th ama Belanda, 11th ama Inggris, 3.5th ama Jepang & 30th ama bangsa sendiri di era Orde Baru (tp rasanya ampe skrg jg masih begitu) jd masih terasa pengaruhnya ampe skrg ya.

    Untuk perbaikan, rasanya tdk perlu makan waktu lama, cuma perlu penegakkan disiplin di semua lapisan masy.

Leave a Reply