The Importance of Imagination
Tuesday, July 19th, 2005
Beberapa hari yg lalu 16 July 2005 bisa dicatat sebagai tanggal release buku Harry Potter and The Half Blood Prince di seluruh dunia. Peluncuran buku ke-6 seri petualangan anak abg penyihir ini lebih heboh ketimbang serial ke 5, Harry Potter and The Order of Phoenix. Ada hal menarik yg barusan gw baca di Jakarta Post, 20 July 2005 page 20. Begini kutipannya:
" Rowling is now the richest woman in Britain - wealthier than even Queen Elizabeth II - with a fortune estimated by Forbes magazines at more than $1 billion."
Gila ngga sih, seorang pengarang buku anak2 yg isinya kebanyakan khayalan bisa ngelibas kekayaan Ratu Inggris. Dia perempuan biasa yg hanya mengandalkan emajinasi murni, yg dimana itu semua ngga mungkin dia peroleh dari bangku sekolah. Mana ada sih sekolah yg ngajarin muridnya untuk bikin buku tentang sihir2? apalagi di Indonesia. Gw juga melihat suksesnya buku trilogy the Lord of the Rings dan film serial Star Wars yg full imajinasi.
Setiap manusia punya potensial untuk menghayal, khususnya mereka yg ngambil jurusan design or architect atau seniman lainya, mereka harus mampu memvisualisasikan khayalan mereka diberbagai media (kertas, tv, kaos, suara dll). Kalo gw ngga mampu mengkhayal, gw ngga akan pernah mendesain rumah dan membangunnya, kalau Steven Spielberg ngga bisa mengkhayal kita ngga mungkin nonton film2 bagus kayak ET, Jurassic Park or Minority Reports, Kalau Thomas Alfa Edison ngga mengkhayal, sampai skrng mungkin kita masih hidup dlm kegelapan dan yg parahnya, kalau Bill gates dulu memutuskan untuk stay di Harvard untuk ngikutin pola pikir system pendidikan dari Professornya, dia ngga akan jadi multi-milyuner kayak sekarang. Tapi sayangnya kreatifitas untuk berkembang tersebut dibatasi oleh "believe system" yg kaku…yg sudah tertata rapih dari lingkungan kita masing2.
Gw yakin mereka2 yg punya kreatifitas tinggi sering di cap "GILA" oleh lingkungannya, bahkan ada yg di abandon. Pola pikir lingkungan dimana kita tinggal skrng terlalu ORDER, ibaratnya kotak2 aja, jadi hidup terkesan monoton. Oknum2 yg menghambat kreatifitas itu rata2 adalah (maaf) orang tua mereka sendiri, budaya, pergaulan dan hukum. Wajar saja kalo anak muda indonesia lebih banyak yg "cari aman" daripada cari tantangan baru dlm berkreatifitas, wong lingkungannya aja ngga dukung dia. Hal ini membuktikan bahwa kreatifitas yg tinggi harus diiringi dengan mental yg kuat untuk memperjuangankan karya mereka. Karena hanya dengan imajinasi dan kreatifitas-lah, kita lebih mudah untuk berkembang dan menikmati hidup ini.
Sekarang tinggal kembali ke diri kita masing2….mau memperjuangkan impian, khayalan kita mati2an, atau mewujudkan impian orang lain, yg kita sendiri ngga bisa menikmatinya?
