3 masalah crucial pola pikir generasi sekarang.
Dalam kehidupan sehari gw melihat adanya 3 masalah crucial yang sedang melanda mental dan pola berpikir bangsa Indonesia. Pertama adalah, PENCITRAAN DIRI YANG SALAH yang mengakibatkan timbulnya hal yang kedua, yaitu BUDAYA KONSUMERISME dan merembet ke hal ke 3, yaitu KATA ORANG. Ketiga problem ini saling terkait, dan tidak mungkin terpisahkan.
PENCITRAAN DIRI YANG SALAH
Pencitraan diri yang salah adalah mematok prestasi berdasarkan materi, jabatan, harta, status, kekuasaan dan hal2 dangkal lainya. Seseorang akan dianggap berprestasi jika dia mampu mencapai jabatan tertentu dlm perusahaan besar, membawa mobil mewah, punya ribuan karyawan dan punya income diatas rata2. Mereka berpikir dengana adanya itu semua, mereka akan lebih percaya diri dan dihormati oleh masyarakat. Kita mungkin tidak tau, untuk mencapai hal2 tersebut, banyak hal yg sudah dia korbankan, mulai dari hobbynya sendiri, keluarganya, passion-nya, cinta-nya, waktunya, hingga ibadahnya.
Jangan salah, juga kadang2 emang lupa diri. Gw jg sering berada dalam posisi pencitraan diri yang salah tersebut. But, the difference is, i feel bad about it and i regret it, but most people feels good about it and proud.
Contoh kecil dalam kehidupan sehari2: Gw punya teman yang jago banget desain arsitektur, gw suka amazed melihat desain dia…komentar gw adalah “ Gila lo, kepikiran aja bikin desain kayak gitu. Udah hemat biaya, hemat energy, efektif dan efficient.” Terus terang gw semenjak itu gw jadi respect sama dia. Gw respect sama dia karena kemampuan, skill dan kreativitas dia. Terlepas dari hal2 lainya, gw ngga akan peduli dia pakai baju merek apa, kendaraannya apa, tinggalnya dimana, orang tuanya siapa, dll. Yang gw lihat dari dia adalah seorang anak muda pekerja keras, BERANI berinnovasi dan memiliki bakat di bidangnya. Tetapi seiring dengan waktu, begitu kita berdua lulus jadi Sarjana Arsitektur, kita berdua harus berpisah menempuh jalan masing2, berkarir sesuai dengan pilihannya masing2. Sayangnya, dengan bakat yg baik itu, dia lebih memilih untuk menjadi account executive di sebuah perusahaan international. Memang sih, gaji dia besar disana, belum lagi ditambah lagi komisi dari tiap project yang bisa dia dapatkan da tunjangan ini itu. Tapi, saat itu somehow, gw ngga melihat anak muda yg dulu gw lihat. Gw ngga melihat passion lagi di mata dia, yang gw lihat adalah seseorang yang dikejar2 deadline, meskipun memang benar, dia masih orang yg BERANI. Tapi beraninya ini sekarang dalam membohongi diri dia sendiri demi menyenangkan hati orang lain (boss, ortu, teman, pacar dan lain2). To be honest, gw lebih respect melihat dia ketika dia lagi gambar sketsa desain bangunan diatas kertas kalkir, pake jeans belel, kaos oblong dan rambut kucel, ketimbang melihat diri dia yg skrng, pake baju kantoran, dasi, sepatu mengkilat, rambut rapih dan bawa mobil. Call me idealist, but thats what i see from my point of view. Bukannya mau munafik, gw sendiri juga pernah terjebak dlm kondisi tersebut kok. Jika ingin gw koreksi lebih dalam lagi, tanpa disadari gw juga pernah melakukan shallow acts like that.
Masih jarang ada orang yg menghargai sesamanya berdasarkan kegigihannya bekerja, bakat, kreativitas, kesabaran dan kerendahan hatinya. Gw menghormati dan menghargai teman gw tadi itu bukan karena hal shallow, kayak merek baju, merek handphone, merek mobil, tapi memang karena daya juang dan skill dia…cuz thats what inspires people the most. Dalam berteman, gw ngga terlalu pilih2. Asalkan dia ngga nge drugs, have no criminal records or terrorist, they all qualified to be my friends.
BUDAYA KONSUMERISME
Sudah menjadi hal yg biasa untuk masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta untuk gonta ganti handphone, gadgets, bahkan mobil dlm kehidupan sehari2. Ditambah lagi dengan gaya hidup dugem, minum2, mabok2an sampe pagi. Sayang sekali, tapi begitulah definisi GAUL di kota metropolitan seperti Jakarta. Budaya konsumerisme itu adalah gaya hidup yang spend, spend dan spend. Bukannya mau sirik or sombong, tokh itukan uang2 mereka, hidup2 mereka, dan hak mereka (selama tidak melanggar budaya, hukum dan agama), tapi menurut gw itu amat sangat disayangkan aja.
Sering gw melihat tante2 yg pake2 handphone nokia 9500 tapi balas sms saja dia ngga ngerti. Lantas features2nya di hp yg canggih itu buat apaan dong? Atau ada juga yg beli mobil mewah, tanpa mempertimbangkan Resale Value dari mobil tersebut. Pola pikirnya masih gini “Gw suka, Gw ada duit (pinjem duit kalo perlu), Gw beli”, bukannya “Gw suka, Gw cari duit, Gw invest buat diputar lagi”. Yang lucunya lagi, masih banyak pula yg udah penghasilan pas2an, gaya hidup royal. Sebelum pulang kantor, mampir bentar, ngafe2…maen billiard, kalo perlu tiap weekend dugem. Nah yg kayak gini2, mereka masih sempat nabung ngga ya? Kadang2 beberapa dari mereka sampe ada yg berani NGUTANG demi untuk barang2 ngga perlu, jalanin lifestyle yg ngga dia suka dan demi gengsi.
Ada sedikit cerita: Gw punya teman yang cantik banget tapi pola berpikirnya shallooooowwwww….banget. Padahal dia tuh pintar loh. Tapi gw amazed, orang dengan pendidikan setinggi dia, bisa lebih shallow dari anak kuliahan tahun pertama. Setiap kita hangout, yang diomongin tuh kehidupan romance dia mulu, as if ngga ada topic yg lebih menarik ketimbang itu. Padahal dia udah cerita2nya dengan full make up yg beli di luar negeri, baju bermerek2 desainer terkenal, HP yg high end dan gaya pokoknya ngga kalah shallow ketimbang cewek2 di Sex and the City deh. Gw hangout sama dia berjam2, TRYING TO FIGURE OUT, what is her passion? What is her skills? What is her hobby? What is her Favorite Music, Movies? What’s her comment of Current Affairs, such as Dancing Cops in Bunderan HI, Playboy Mags and Business? Where is her sense of humour?. At the of the conversation, in return of my “listening behavior” I got ZERO knowledge, loosing a bunch of cash,, ngedongeng dan the most regretful is loosing my time. Pertanyaan gw adalah “Dia sekolah tinggi2 untuk apa ya?”. Beberapa jam duduk ngopi2 bersama dia, tanpa terasa dunia gw ikutan sempit…sesempit cara dia memandang dunianya sendiri. In this case, I cant blame her…its all my fault, i’ve wasted my time listening to a no brainer speaking…and that makes me feel (also) a no brainer myself.
Gw yakin sebenarnya dia ngga se ZERO itu. Mungkin orang2 di lingkungan sekitar dia yg membentuk diri dia jadi seperti itu, which leads us to he third problem…THEY SAY! To be continue yah, gw capek ngetik mulu. Hhehehe..
May 16th, 2006 at 6:56 pm
“Asalkan dia ngga nge drugs, have no criminal records or terrorist” –> hv u ever think that one of ur friends are related with terorist stuff in this country bov? hemmm…
May 16th, 2006 at 6:58 pm
“Asalkan dia ngga nge drugs, have no criminal records or terrorist” –> hv u ever think that one of ur friends are related with terorist stuff in this country bov? hemmm…
May 16th, 2006 at 7:00 pm
“Asalkan dia ngga nge drugs, have no criminal records or terrorist” –> hv u ever think that one of ur friends are related with terorist stuff in this country bov? hemmm…
May 18th, 2006 at 5:23 pm
hehehhe….maybe. selama ngga ketawan, thats ok with me. kalo ketawan terrorist, yah udah pasti gw pecat jadi teman.