Barang Bajakan sebagai Kebutuhan Primer

Bagi kita yang hidup di Indonesia, pirated products atau barang2 bajakan sudah menjadi kebutuhan primer dalam gaya hidup kita sehari. Barang2 bajakan tersebut (seolah2) bisa membuat hidup kita lebih mudah dengan ditekannya pengeluaran sehari.

Mulai dari bangun pagi hingga, on the way ke kantor di mobil kita mendengarkan MP3 dari iPOd yang di transfer dari CD MP3 bajakan, kemudian kalo kita lagi bosan, kita beralih putar radio untuk dengar lagu2 yang lebih variatif, stasiun radio tersebut putar lagunya dari CD MP3 bajakan juga. Atau bagi yang punya DVD player di mobil, sambil macet2an kita bisa nonton film2 box office amerika dengan DVD 9 (bajakan juga). Setiba di kantor, taruh tas di meja, ke pantry bikin kopi dan baca koran kompas sambil nyalain komputer dan sudah pasti operating systemnya Windows XP bajakan. Sambil bekerja, kita download lagu2 atau movie trailer2 kesukaan kita dengan LimeWire Pro, which is pirated act also. Habis bekerja seharian pakai software2 bajakan yg up to date, seperti Photoshop CS 2, AutoCAD 2007, Autodesk Revit 9 atau Microsoft Office 2006, kita kembali pulang ke rumah. Untuk melepas letih di kantor, kita menghilangkan stress dengan bermain videogames XBOX atau PS2 yang sudah tentu diambil dari koleksi games bajakan atau mungkin nonton film seri yang addictive seperti Desperate Housewives, 24 atau LOST yang sudah tentu dari DVD bajakan juga. Keesokan harinya, di ulang lagi seperti itu, dan terus menerus.

Kalo emang barang bajakan itu ilegal dan hukum benar2 ditegakkan, gw rasa harus ada 1 pulau sendiri untuk dibikin penjara bagi penggunanya. Ada ngga yah, yang sehari2nya di Indonesia,khususnya Jakarta yang hidupnya benar2 sterile, tanpa adanya peran produk bajakan?

8 Responses to “Barang Bajakan sebagai Kebutuhan Primer”

  1. Lussy Says:

    hidup pembajakan !

  2. Rifanie Says:

    Jangan lupa, negara kita juga dikenal rawan bajak laut, terutama di Selat Malaka.
    Sayangnya, produk bajakan kita belum bisa diekspor, mengajak seluruh dunia menikmati kenikmatan yg kita peroleh dari produk bajakan. Oiya… produk bajakan yg paling enak menurut gue sih: sambel bajak!

  3. Dang Irwan Says:

    yah emang untung kan kita (orang endonesa) pinter ngebajak… kalo nga nanti kite lagi yang “dibajak” orang lain… setidaknya kita kan ada canggihnya tuh… kayanya yg punya hak cipta barang barang yang di sebutin itu juga udah nga papa kok di bajak asal yang bajaknya orang endonesa :D

  4. Danu Says:

    Lalu kenapa kita marah ketika:
    - kenyamanan perjalanan kita “dibajak” lubang2 di jalan?
    - kenyamanan penghirupan kita “dibajak” oleh aroma tumpukan sampah di pasar sederhana, karangsetra, pasteur, dll?
    - perekonomian negara “dibajak” para *pejabat negara*?
    - ketika keamanan dan barang2 kita “dibajak” oleh pencuri dan bahkan penegak hukum?
    - ketika pegawai lo “ngebajak” waktu kerja dia?
    - ketika waktu lo “dibajak” krn orang yg lo tungguin telat 1,5 jam dari janjinya?
    - ketika komputer lo ngehang melulu karena barang “bajakan”?
    - jika membran speaker Bose lo ternyata hasil “bajakan”?
    - bisakah lo yakin pikiran lo bukan barang “bajakan”?

    … cuma beberapa pertanyaan … have a nice day :)

  5. Dang Irwan Says:

    kaliii… pertanyaan cuma satu kan… kenapa kita marah? jadi… kita marah karena kita khilaf kali yaaa.. hauaahha sok sok lupa kalo kita pembajak… jadi kita ngebentuk “pembajakan” baru lagi yang nga bisa di toleransi oleh kita yang sebenernya pembajak itu.. gitoe kali yaa…

  6. Bovamiliar Says:

    hmm..gw ngga kayak yang danu bilang. gw sih pembajak yang tahu diri. jadi gw ngga pernah complaint tuh soal barang2 bajakan yang gw beli. kalo rusak ya tuker (kadang2 malah ngga butuh bon) atau gw beli aja yg baru (bajakan lagi) jadi ngga usah di bikin pusing. Pembajak yg doyan complain adalah bukan pembajak sejati.

    pembajakan memang salah, tapi gw ngga mencari pembenaran akan hal itu. gw tau apa yg gw lakuin salah jadi gw ngga complain atas kesalahan orang lain dengan melakukan hal yg sama dengan apa yg gw lakukan.

    makanya, mulai sekarang “Jadilah Pembajak yang Tahu Diri”.

  7. Danu Says:

    Bov, gue gak bermaksud nuding lo. Maap kalo salah ngerti ya. Yg gue maksud adalah “kita” secara general, orang2 indo tepatnya, termasuk gue sendiri. Artikel lo bagus, netral, maparin fakta doang. Reply gue berusaha ngasih gambaran yg lebih luas pada arti dan dampak “pembajakan” dalam aspek2 lainnya. Kita semua tau pembajakan tuh salah, khilaf, kata Dang Irwan. Tapi kapan kita sadar dan berhenti (atau paling gak berusaha sadar dan berusaha berhenti) membeli barang bajakan dan ngebajak karya orang lain? Sebagai pembeli barang bajakan, kita secara langsung mensuport perekonomian dunia bajakan.

    Pertanyaan lebih lanjut, sekali lagi gak spesifik ttg lo,

    “Dari mana kita tau jeans Levi’s dengan price-tag 500rb asli ato bajakan?”

    “Gimana perasaan lo jika software CAD yg lo beli seharga $5000 ternyata bajakan? Padahal kan maksud lo baik, berusaha berhenti make barang bajakan?” No complaint?

    Btw, gue gak percaya istilah Pembajak yg Tau Diri.

  8. Bovamiliar Says:

    hehe..thanks for the comment. difinisi tahu diri itu sediri adalah: mampu menerima segala konsekwensi atas segala pilihan atau tindakan yg dilakukan berdasarkan kondisi dan situasi yg ada.

    jadi pembajak yang tahu diri itu adalah pembajak yg pasrah aja nerima kondisi kualitas barang bajakan.

    lo ngga butuh percaya atau ngga. karena pembajak2 ngga peduli soal itu. dan mereka sudah pasti lebih senang dengan orang2 kayak lo, because u refuse to believe they are exist.

Leave a Reply