Needs and wants
Wahai
para dudes and babes, sadar ngga sih sebenarnya kebutuhan (needs) dan keinginan
(wants) itu bisa saling bertolak belakang dan seringkali kita bersusah payah
membedakan keduanya, karena keduanya hanya beda tipis sekali.
Hal
ini juga saya temukan setelah membaca buku berjudul “Dematerializing” karya
Jane Hammerslough. Contoh mudah adalah Handphone. Meskipun semua fungsinya sama (untuk menelpon) tetapi
ada banyak pilihan handphone, ada yang type communicator, yang lengkap dengan
features Office, kamera bahkan 3G dan ada juga yang type biasa aja, alakadarnya
yang muat masuk saku, harga ekonomis dan tahan banting.
I dont wanna sound too preachy, tapi coba deh perhatikan. Secara sadar kita menginginkan (wants) handphone dengan
powerful rig, seperti communicator. Tapi coba, sebelum memutuskan pilihan perhatikan
lagi lebih seksama dan Tanyakan pada diri sendiri, “this is exactly what I
want! But, is this what I really need?” ulangi berkali2, setelah itu baru deh
perang batin dimulai, dan serombongan pertanyaan datang, seperti:
1.“Bener ngga sih, saya butuh hp 3G, karena teman saya ngga semuanya pake 3G?”
2. “Cukup ngga ya, dana saya
untuk tukar tambah dengan yg lebih canggih ?”
3. “Bener ngga ya, saya akan lebih dapat perhatian dari orang2 sekitar saya kalo saya pake HP ini” 4. "Seberapa sering sih, saya pake Wifi ?"
Pada
akhirnya seringkali kita malah tidak jadi memilih handphone setangguh
communicator, PDA 02 atau semewah Vertu.
Pada akhirnya kita akan memilih type handphone yang harganya ekonomis disertai
dengan features yang lengkap dan tahan banting.
Handphone
barusan itu hanya sebagai analogy saja, sebagai symbol yang represents The
Power of Possession. Sebenarnya “Handphone” disini kasusnya akan sama dengan
materi lainya, seperti misalnya:
- Karier (karyawan/pengusaha)
- Pendidikan (teknik/ekonomi)
- Mobil (SUV/ sedan)
- Tempat Tinggal (Apartemen/Rumah)
- Operaring System (Leopard/Vista)
- Pakaian (Prada Plaza Senayan/ Prada Mangga Dua)
- Teman (Jomblo/Berkeluarga)
- Pacar (Pornstar/Ordinary)…hahuahuahuahu
- Pasangan Hidup (Virgin/Widow)
Now,
look into your heart and think. Ask ourselves: “Is this what I really need or
what I want?”. Sangat jarang kita temui kasus, dalam materi yang sama
terkandung bersamaan needs dan wants dalam kadar yang seimbang. Ini dia kenapa
banyak orang menyesal setelah mengambil keputusan dalam hidupnya seperi, dalam
menyesal membeli sebuah barang, menyesal setelah menjalani komitmen dengan pasangannya,
menyesal dalam memilih karir disuatu perusahaan, bahkan yang lebih parah
menyesal karena telah merasa memilih pasangan hidup yang salah. Hal tersebut
terjadi karena seorang “victim” tidak bisa mendefinisikan dan memisahkan mana
yang benar2 dia inginkan dan butuhkan.
Nah,
skrng coba deh kita kaitkan dengan memilih pasangan. Bener ngga sih pilihan
kita itu adalah orang yang kita inginkan, atau kita butuhkan? Terkadang logika
itu bisa bertolak belakang dengan intuisi atau kata hati. Misalnya ada orang
yang udah tau pasangannya, sering berbohong, selingkuh dan mengkhianati dia,
namun dia tetap aja memaafkan dan berusaha ingin terus “memperbaiki”
pasangannya dan dirinya sendiri. Sehingga dengan bodohnya karena sekedar
mengikuti “wants”, dia rela saja di bodohi atau bahkan diperalat terus menerus,
padahal dia sudah tau kalo figur, personality dan karakter orang tersebut
adalah bukan yang dia butuhkan.
Atau
dalam kasus di karier/pekerjaan. Coba deh Tanya ke diri kita. Bener ngga sih
yang kita lakukan skrng ini adalah what we really want, or just what we really
need. Misalnya ada yang rela jadi “budak” dikantornya. Disuruh kerja lembur sama
boss, sampe dikejar2 deadline tapi digaji pas2an dan dijanjikan jenjang karier
yang mulus, namun setelah bertahun tidak ada perubahan sama sekali. Ask yourselves,
is that what u really want? Or just what u need, because u need money, even by
degrading yourself or status, so u can have an answers if someone ask you where
u work?
Kita
memang tidak bisa dengan mudah mendefinisikan mana yang kita butuhkan dan mana
kita inginkan. Tapi paling tidak, sebagai manusia kita diberikan akal pikiran
dan hati untuk mengimbangi semua itu. Kalo kita hanya menuruti nafsu/wants itu
akan sama saja dengan animals, karena dia ngga punya akal pikiran untuk
memilah2 mana yang dia butuhkan/ inginkan. Kalo kita menuruti needs saja,
sering kali kita harus mengorbankan passion dan happiness dalam hidup kita.
Nah,
skrng tinggal gimana kita memilih saja, sebelum terlambat, pikir2 dulu dalam memilih,
karena setiap pilihan itu ada konsekwensinya. Paling tidak dengan adanya
pemikirian sebelum memilih, kita bisa responsible atas pilihan kita, jadi
nantinya tidak become a victim by blaming others.

September 20th, 2006 at 12:57 am
Kayaknya bukunya bagus utk memperlambat Hyperconsumerism lifestyle (KEGILAAN utk memiliki barang, entah utk pengakuan status sosial, iri, pemenuhan nafsu, sekedar ‘latest-gadget-junkie’ atau alasan2 bodoh lainnya). Yg gak gue ngerti adalah lifestyle ini sering gue liat pada temen2 gue di Indo (yg katanya susah py penghasilan yg layak) …
- kalo gak py barang bermerk seakan2 hidup mereka gak berarti
- kalo gak pamer py gadget terbaru dilecehin sama temen2nya
kalo uang yg mereka terima mereka abisin utk barang2 gak berguna, pantesan aja mereka ngomel2 melulu!
lho, kok curhat jadinya?
btw, masuk kategori ‘need’ kan utk upgrade HP Nokia 32?? gue yg udah berumur 4 tahun lebih (gratisan pula!!) ?
September 20th, 2006 at 3:36 am
uhauhauhauh….itu mah dimana2. yang kocaknya lagi “KETOLOLAN” semacam ini ngga pandang bulu. Bisa aja dialami oleh lulusan SMA,S1,S2 hingga S3.
Perhatikan deh, pernah ngga lo ketemu sama orang yg membuat “benchmark” dalam menentukan sukses atau tidaknya seseorang dari mobil apa yg dia kendarai?
jujur aja, di SMA gw punya teman2 yg bodoh seperti ini, namun ternyata kebodohan macam ini bukan di sma aja. tapi ternyata seorang pegawai negeri/pejabat juga masih ada yg punya pola pikir “kuno” kayak gitu.
punya mobil itu seolah kayak ada di jidat ada tulisan “MINGGIR ORANG SUKSES MAU LEWAT!”. menurut gw sih definisi sukses, adalah seberapa banyak orang yg bisa kita bantu dengan POWER yang kita punya. Just like Bill Gates.
Nobody cares what he drives, where he lives, and what food he eats. But everybody knows what he has done!
wajar deh, kalo indonesia masih sangat2 terbelakang, nu. coba lo tanya deh sama tetangga sebelah, definisi sukses apaan?
September 21st, 2006 at 3:12 am
wah…bener bgt, Bov. Memang want X need. Kayak lagunya KD: kumau s’perti yg kumau. Biasanya sih: WANT itu berisikan keinginan2 daging, timbul dr level terendah dlm tubuh manusia. NEED itu dah pasti lebih cukup utk menyatakan kebenaran.
Namanya manusia, kebanyakan melihat/menilai sesuatu dari rupa/fisik sih. Kenapa bnyk org yg pada mengutamakan penampilan dlm hal ini mereka WANT it not NEED it? krn memang nyatanya bnyk org yg mau dikibulin oleh penampilan.
September 21st, 2006 at 3:20 am
bov, beberapa bulan yg lalu gue sempet baca buku ttg makna sukses bagi beberapa orang kiwi, dan beberapa yg gue suka gue post di blog gue (http://kadalair.blogs.friendster.com/my_blog/ ) … hehehe, numpang promosi ya

… hahaha, teringat masa2 ABG & kuliah! Nikmatnya sendal jepit!!
… hmm, iya, S3 gak jaminan jadi pinter cuma nambah minus kacamata
kebodohan ini paling sering gue liat di hotel, mall yg besar, dan toko yg mahal. kalo gayanya gak heboh gak bakal diladenin, paling2 disamperin satpam
Tambahan daftar kebodohan: takjub dan kepengen py kartu kredit gold ato platinum … padahal kan itu kartu HUTANG yg artinya kalo tagihan bulanan gak kebayar, entah didatengin sama preman pinggir jalan (silver) atau mafia gahar (platinum).
Kenapa ya kebahagiaan dan kesuksesan selalu dikaitkan dengan materi? Scratch, scratch … btw, met puasa (upaya dematerialisasi juga bukan?) … and people still don’t get it
September 21st, 2006 at 4:35 am
hahhaa…setuju gw dengan danu dan jacko. ok ntar gw contribute juga di blog lo. contoh prakter “rip-off” kredit card yang paling pas adalah Celebrity Fitness. Mosok gw ngga boleh bayar iuran tahunan secara CASH? Mereka gila apa? They only accept credit cards for God sake!! gw rasa slogan mereka gini nih:
“BERGABUNGLAH DENGAN KAMI. TUBUH ANDA AKAN SEGAR BUGAR DENGAN CARA BERHUTANG!”
Udah gitu They have the most annoying marketing armada i’ve ever seen! kita bisa dicecer ampe di telpon2in. gila ya!
September 21st, 2006 at 9:18 pm
Embeeeeeeeer….!!!
Gw tuh udah melakukan penolakan lebih dari itungan jumlahnya jari tangan + kaki gw, tapi TETEUB.. Mba/Maz2nya nelponin gw molo utk ngajakin trial!!
dan gw juha bisa lebih keukeuh dari mereka koq.., TETEUB juga ga dateng2! Hihihihi..
Much better Fitness First siy.. at least for me
September 24th, 2006 at 5:25 am
The only problem is : HOW to control yourself …
> Apa kaw cukup PD untuk “be yourself” tanpa terbawa arus ?
(palid kitu … palid …)
Sayangnya, survey membuktikan … 80% nope … they washed away …