Archive for October, 2006

Comfort Zones

Monday, October 9th, 2006

Kenapa ya, kita betah banget (kadang2 malah bangga) berada dalam comfort zone kita?
sebenarnya tanpa kita sadari hidup dan waktu kita bisa terbuang sia2
dalam waktu singkat. misalnya kita rela "makan ati" hanya demi
mempertahankan comfort zone tersebut. kita rela, bekerja dengan orang
yg treat us badly. kemudian hati kita berkata "mungkin butuh waktu untuk adaptasi". Padahal itu salah banget, kitanya aja yg ngga cukup berani untuk stand-up for ourselves dan ngga berani keluar dari comfort
zone tersebut, dan yang paling sering adalah kita denial dengan
menjawab "baik2 aja" jika ada orang lain bertanya pada kita "apa
kabar?".

menurut gw comfort zone itu terikat erat dengan
ketakutan (fear). Fear of the Unknown, itu sebenarnya kata2 yang lebih
tepat dalam mendifinisikan comfort zone. karena kita semua ngga tau
diluarsana gimana dunia akan melihat, menerima, atau memperlakukan
kita. kita terlalu sibuk dengan memikirkan image yang ingin kita
portray terhadap dunia, sementara kata hati kita berteriaaakkk untuk
keluar dari kurungan rutinitas itu. because as far as i know, comfort zone membunuh daya kreativitas seseorang. bayangin deh, setiap orang harus datang jam 9 pagi pulang jam 5 (artinya semua orang harus jadi korban kemacetan), setiap orang kalo ingin tampil "kantoran" harus pake kemeja, celana bahan dan dasi (sorry to say, but those costumes are so uncool for me).

  • Wajar aja kalo amerika lebih maju, semenjak TK sampe kuliah, mereka tidak pernah mendikte generasi mudanya untuk memakai baju seragam sekolah, mereka bebas untuk mengekspresikan dirinya sampai benar2 nemu jadi diri dan passion mereka masing2. mungkin ini sepele, tapi ini bisa jadi Domino Effect in long term.
  • Ingat ngga jaman kita SMA. Beberapa teman kita ngambil IPS karena mereka takut sama materi atau tidak mampu sama materi jurusan IPA?
  • jaman kuliah, beberapa teman kita ambil jurusan yg mereka pilih semata2 karena disuruh oleh orang tuanya. Mereka pengen anaknya jadi insinyur, ekonom atau lawyer. sementara anak itu sendiri punya impian ingin menjadi rockstar?
  • kerasa ngga, teman kita ada yg males untuk kenalan sama orang lain hanya karena dia seorang tukang ojek, tukang becak atau satpam?
  • Atau yg lebih parah, kerasa ngga, ketika lo ingin mengundang teman lo untuk hangout, dia nanya dulu "ada siapa aja?" (kalo ngga banyak yg dia kenal, dia ngga akan datang).

Menurut gw itu semua karena Fear of the Unknown. mereka udah terlalu betah ada dalam comfort zone masing2. gak usah jauh2 deh. bener
ngga sih baju yg lo pake itu menunjukan citra diri lo yang sebenarnya,
atau lo nunjukin citra perusahaan dimana lo bekerja? and you will say
stupidly ,"hey, dude. thats why i’m getting paid for". and i’ll say " sorry, dude.
Thats how you become slave for something that you’re not even sure of.
somebody else TOLD you to do something u dont like or even you hate
the most. ask yourself again, dude. You got a billion dollars to wear
that boring office clothes?

coba deh lo rombak semua rutinitas lo. besok
lo ngga usah masuk kantor, maen aja sama2 teman2 kantor yang lain. do
what u like and see what happens. what will happen is the peope who
already stay for sooo long in their comfort zones (mereka yang penakut), will hate you and
walk away from u, just because u perform a rebelious behaviour by
pullin that stunts.

is this how the world works? if its true, we should ask ourselves this question: is our comfort zones, really makes us
comfort? it could be a ticking bomb, waiting to explode in no
time. kadang2 gw melihat ini adalah fenomena yg stupid aja, karena sebagian dari teman2 kita sibuk membatasi kemampuan dalam diri mereka (untuk sesuatu yg tidak jelas), ketimbang mengembangkan dan explore kemampuan baru dalam diri mereka.

Maturity vs. Originality

Sunday, October 8th, 2006

53203323maturity
Banyak orang berkata "Tua itu pasti, namun dewasa itu adalah pilihan".
The problem is: Be mature and be original doesn’t MIX. Kadang2 gw heran. Sebenarnya "DEWASA" itu seperti apa sih?

Yang
sudah pasti sosok dewasa itu adalah mereka yang lebih memikirkan apa yg
mereka bisa berikan, ketimbang apa yg mereka bisa dapatkan. Sosok
kekanak2an adalah sebaliknya, selalu memikirkan apa yg bisa dia
dapatkan, bukan apa yg bisa dia berikan. Ingin tau contohnya? gampang.
coba ingat2 aja masa2 kanak2 dulu. Ngga ada kan, anak kecil yg
memberikan pekerjaan kepada temannya? ngga ada kan anak kecil yg
sukarela menolong temannya (kalo ngga diajarkan oleh orang tuanya).

Kedewasaan
menurut gw bisa dinilai dari behavior, sopan santun dan pola pikir
seseorang. orang yg mampu berpikir visioner jauh kedepan adalah ciri
khas dari  orang yg dewasa.

Visioner: Sebelum suatu masalah
itu timbul, maka dia sudah terlebih dahulu mengcounter masalah itu.
Tanggung jawab juga symbol dari kedewasaan. Mereka kadang2 sukarela
untuk memikul tanggung jawab tersebut, mampu menanggung resiko atas
tindakannya, bukan menuduh orang lain jika melakukan hal2 yg tidak
benar.

Adaptability: Dewasa juga bisa diartikan mampu
menempatkan diri dimanapun dia berada. Dia mampu bergaul "keatas dan
kebawah". Mampu belajar dari senior maupun junior dan berani berkata
TIDAK untuk hal yang tidak sesuai dengan pendapat dia, berani membela
believe yang dia anggap benar dan  berani juga meminta maaf jika dia
melakukan kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Dependable:
Dengan karakteristik kedewasaan seperti itu, gw rasa efeknya adalah,
orang tersebut bisa menjadi orang dpt diandalkan oleh lingkungannya,
seringkali dia juga menjadi decision maker dalam sebuah perkumpulan.

Emotional
Control:
Orang yg dewasa sudah pasti mampu mengendalikan emosinya.
Tidak mudah hanyut terbawa oleh mood dan kemalasan. Karena orang yang
dewasa mempunyai target didepan yang harus dia capai. menurut gw hal
ini berlaku untuk semua jenis kelamin. PMS bukan alasan bagi perempuan
untuk tidak menjadi dewasa. Arti kata lain, orang yg dewasa mampu
berpikir positif terhadap masalah yg dihadapinya, bukan emosional dan
lari kesana kemari minta tolong.

Ingat ngga dulu, orang tua
kita sering melarang itu melakukan ini - itu? Perlahan2 mereka ingin
membentuk karakter dalam diri kita menjadi seperti mereka, yaitu dewasa
yg sesuai dengan cara pandang mereka. Sementara kita memandang mereka
sebagai sosok yg kolot, banyak maunya, dan sulit diajak komunikasi.
Wajar saja sering kali anak berantem dengan orang tuanya hanya karena
masalah sepele. Generasi Playstation ketemu dengan Generasi Billiard,
ngga akan ada titik temunya. yg satu bisa have fun rame2 dirumah
masing2, main online games sama teman2 seJakarta. yg satu untuk have
fun harus keluar rumah nyodak bola billiard atau main kartu.

Be Mature if you want to be accepted, be orginial if you want to be loved. Sejujurnya, gw sendiri masih belum murni 100% dewasa, karena masih
sering dirasuki perang batin antara menjadi diri sendiri, atau menjadi
dewasa. Kontradiksinya adalah, terkadang menjadi dewasa itu sendiri
mematikan kreativitas seseorang, karena ibarat sebuah produk. Maka
kedewasaan itu adalah mass production, semua orang suka dengan figur
dewasa. Tanpa disadari kedewasaan itu sendiri menyingkirkan keunikan
pribadi dalam diri seseorang, sehingga sering kali menjadi sosok yg monoton, teratur,
tertata rapih dan jauh dari definisi FUN dan original. Contoh: Steve Irwin, Bob Sadino, Michael Jackson dan JK Rowling. Imajinasi dan gaya mereka, patut dipertanyakan dalam skala kedewasaan, namun kesuksesan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ingat motto hidup tidak konsisten kayak gini ngga? WORK HARD, PARTY HARD. Sadar
ngga sih itu sebenar slogan kemunafikan orang yg ingin dianggap dewasa
tapi sebenarnya jiwa kekanak2an mereka ingin berontak keluar dari dalam
dirinya? Mereka "pretend" menjadi orang yg dewasa di kantor (karena
mereka dibayar untuk itu), dengan image baju kantoran yg boring dan
gaya sok tau pas meeting mingguan. Saat weekend, mereka ingin benar2
balik lagi jadi anak-anak!! clubbing, joget kayak orang gila (ngga in control), minum2 booze
yg ngga jelas manfaatnya (ngga visioner), ngobrol aja di club ngga bisa, gimana mau perform maturity? Mereka bener2 berubah jadi anak-anak lagi secara
behavior. Sayangnya figur semacam itulah yg di idam2kan oleh generasi muda sekarang, generasi yg masih dalam proses mencari jadi diri, meskipun sudah pada usia kepala 3 dan 4.

I think we’re all just a bunch of kids in bigger size, we just learn how to act in public.