Maturity vs. Originality

Banyak orang berkata "Tua itu pasti, namun dewasa itu adalah pilihan".
The problem is: Be mature and be original doesn’t MIX. Kadang2 gw heran. Sebenarnya "DEWASA" itu seperti apa sih?
Yang
sudah pasti sosok dewasa itu adalah mereka yang lebih memikirkan apa yg
mereka bisa berikan, ketimbang apa yg mereka bisa dapatkan. Sosok
kekanak2an adalah sebaliknya, selalu memikirkan apa yg bisa dia
dapatkan, bukan apa yg bisa dia berikan. Ingin tau contohnya? gampang.
coba ingat2 aja masa2 kanak2 dulu. Ngga ada kan, anak kecil yg
memberikan pekerjaan kepada temannya? ngga ada kan anak kecil yg
sukarela menolong temannya (kalo ngga diajarkan oleh orang tuanya).
Kedewasaan
menurut gw bisa dinilai dari behavior, sopan santun dan pola pikir
seseorang. orang yg mampu berpikir visioner jauh kedepan adalah ciri
khas dari orang yg dewasa.
Visioner: Sebelum suatu masalah
itu timbul, maka dia sudah terlebih dahulu mengcounter masalah itu.
Tanggung jawab juga symbol dari kedewasaan. Mereka kadang2 sukarela
untuk memikul tanggung jawab tersebut, mampu menanggung resiko atas
tindakannya, bukan menuduh orang lain jika melakukan hal2 yg tidak
benar.
Adaptability: Dewasa juga bisa diartikan mampu
menempatkan diri dimanapun dia berada. Dia mampu bergaul "keatas dan
kebawah". Mampu belajar dari senior maupun junior dan berani berkata
TIDAK untuk hal yang tidak sesuai dengan pendapat dia, berani membela
believe yang dia anggap benar dan berani juga meminta maaf jika dia
melakukan kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Dependable:
Dengan karakteristik kedewasaan seperti itu, gw rasa efeknya adalah,
orang tersebut bisa menjadi orang dpt diandalkan oleh lingkungannya,
seringkali dia juga menjadi decision maker dalam sebuah perkumpulan.
Emotional
Control: Orang yg dewasa sudah pasti mampu mengendalikan emosinya.
Tidak mudah hanyut terbawa oleh mood dan kemalasan. Karena orang yang
dewasa mempunyai target didepan yang harus dia capai. menurut gw hal
ini berlaku untuk semua jenis kelamin. PMS bukan alasan bagi perempuan
untuk tidak menjadi dewasa. Arti kata lain, orang yg dewasa mampu
berpikir positif terhadap masalah yg dihadapinya, bukan emosional dan
lari kesana kemari minta tolong.
Ingat ngga dulu, orang tua
kita sering melarang itu melakukan ini - itu? Perlahan2 mereka ingin
membentuk karakter dalam diri kita menjadi seperti mereka, yaitu dewasa
yg sesuai dengan cara pandang mereka. Sementara kita memandang mereka
sebagai sosok yg kolot, banyak maunya, dan sulit diajak komunikasi.
Wajar saja sering kali anak berantem dengan orang tuanya hanya karena
masalah sepele. Generasi Playstation ketemu dengan Generasi Billiard,
ngga akan ada titik temunya. yg satu bisa have fun rame2 dirumah
masing2, main online games sama teman2 seJakarta. yg satu untuk have
fun harus keluar rumah nyodak bola billiard atau main kartu.
Be Mature if you want to be accepted, be orginial if you want to be loved. Sejujurnya, gw sendiri masih belum murni 100% dewasa, karena masih
sering dirasuki perang batin antara menjadi diri sendiri, atau menjadi
dewasa. Kontradiksinya adalah, terkadang menjadi dewasa itu sendiri
mematikan kreativitas seseorang, karena ibarat sebuah produk. Maka
kedewasaan itu adalah mass production, semua orang suka dengan figur
dewasa. Tanpa disadari kedewasaan itu sendiri menyingkirkan keunikan
pribadi dalam diri seseorang, sehingga sering kali menjadi sosok yg monoton, teratur,
tertata rapih dan jauh dari definisi FUN dan original. Contoh: Steve Irwin, Bob Sadino, Michael Jackson dan JK Rowling. Imajinasi dan gaya mereka, patut dipertanyakan dalam skala kedewasaan, namun kesuksesan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.
Ingat motto hidup tidak konsisten kayak gini ngga? WORK HARD, PARTY HARD. Sadar
ngga sih itu sebenar slogan kemunafikan orang yg ingin dianggap dewasa
tapi sebenarnya jiwa kekanak2an mereka ingin berontak keluar dari dalam
dirinya? Mereka "pretend" menjadi orang yg dewasa di kantor (karena
mereka dibayar untuk itu), dengan image baju kantoran yg boring dan
gaya sok tau pas meeting mingguan. Saat weekend, mereka ingin benar2
balik lagi jadi anak-anak!! clubbing, joget kayak orang gila (ngga in control), minum2 booze
yg ngga jelas manfaatnya (ngga visioner), ngobrol aja di club ngga bisa, gimana mau perform maturity? Mereka bener2 berubah jadi anak-anak lagi secara
behavior. Sayangnya figur semacam itulah yg di idam2kan oleh generasi muda sekarang, generasi yg masih dalam proses mencari jadi diri, meskipun sudah pada usia kepala 3 dan 4.
I think we’re all just a bunch of kids in bigger size, we just learn how to act in public.
October 9th, 2006 at 12:00 am
Same topic much more research. Good work, mate!
Bagi gue sendiri kedewasaan bukan eliminasi jiwa kekanakan dalam diri kita, tapi addition.
As we grow older, innocence, tertawa lepas, having fun (ciri2 anak2) diTAMBAH dengan long view/ vision, responsibility, hard work, understanding (ciri orang dewasa) diTAMBAH dengan wisdom, storytelling, strength (ciri orang tua) … bagi gue itulah karakter manusia sejati. While love, companionship & family is the anchor throughout our life. That’s my ideal. Tapi tentunya orang laen berhak py ideal mereka sendiri.
WORK HARD, PLAY HARD! Gue gak tau mana yg original, but who cares.
Pernah denger, THE DIFFERENCE BETWEEN MEN & BOYS ARE THE PRICE OF THEIR TOYS?
hahaha … there’s really NO difference … istri lo (future tense ;p ) bakal setuju sama pendapat gue hihihi 
Childhood bagi gue penting banget, dan py anak sendiri mempertegas kepercayaan gue. We should never forget how to play.