Memilih Rumah Sesuai Gaya Hidup

January 19th, 2006 by bov

By Nirwono Joga, Kompas, 20 January 2006

Tak pelak salah satu konsep arsitektur yang paling digemari tahun ini adalah bangunan berkonsep arsitektur minimalis. Mulai dari bangunan rumah, vila, rumah toko, kantor, kafePerspective_depan_1_2

, hingga gedung bertingkat semua bergaya minimalis. Sebagian besar pengembang properti berlomba-lomba menjajakan bangunan rumah berarsitektur minimalis.

Karya arsitektur bangunan, apa pun konsepnya, merupakan pilihan-pilihan terhadap bentuk arsitektur sebagai akibat budaya. Minimalis adalah pola berpikir, bekerja, dan suatu cara hidup. Sebuah cara pandang baru dalam melihat desain sebagai refleksi cara hidup masyarakat urban yang serba praktis, ringan, efisien, dan penuh kesederhanaan.

Rumah minimalis hadir dengan karakter lebih jelas (bentuk dan ruang geometris, sederhana), lebih baik (kokoh), dan lebih kuat dengan ruang-ruang yang kosong (sedikit ornamen dan perabotan). Prinsipnya, semakin sederhana, maka kualitas desain, ruang yang ada, dan penyelesaian bidang struktur harus semakin lebih baik.

Minimum menjadi tujuan sekaligus ornamen itu sendiri yang sederhana dan murni. Garis-garis lurus, bidang-bidang datar yang mulus, terkadang kasar, dan pertemuan bidang yang serba siku tegak lurus. Blocking massa, material, pencahayaan, pengulangan, sirkulasi ringkas, optimalisasi multifungsi ruang dan berurut.

Pemakaian beragam bahan material, seperti kayu, batu bata, batu kali, kaca, beton ekspos, atau baja, tampil murni. Ekspos dominasi bahan material menghasilkan efek berbeda-beda. Penyelesaian mulai dari lantai, dinding, pintu, jendela, lubang angin, skylight, plafon, hingga atap, dengan kombinasi pemakaian bahan secara konsisten. Rangka (beton, baja), dinding (kaca, kayu, beton polos/ekspos, baja, batu kali, batu bata, hebel, batako), pintu dan jendela (kayu, metal), tangga (beton, baja, kayu, fiberglass), skylight (fiberglass), lantai (semen, teraso, keramik, marmer, parquet), plafon (tripleks, gypsum), atau tanpa plafon (beton ekspos, ekspos rangka atap baja, kayu), dan atap (genteng, sirap, baja).

Pemakaian warna-warna cerah (merah, oranye, kuning) pada beberapa bidang ekspos turut memperkuat aksen rumah minimalis dan menjadi titik pusat perhatian lingkungan.

Rumah minimalis menekankan bentuk desain lugas, polos, sederhana, tidak rumit, kompak, dan efisiensi ruang. Kesan minimalis juga tampil pada sikap arsitek, atas persetujuan klien sebagai calon penghuni rumah, untuk ”sukarela” mengurangi (mereduksi) berbagai kebutuhan yang tidak penting. Hanya bagian esensial fungsi rumah saja yang tetap dipertahankan sehingga jika rumah tersebut berkesan minimalis merupakan hasil dari sebuah proses. Keindahan rumah minimalis secara optimal terjadi dari kemurnian fungsi itu sendiri.

Perabotan rumah mengikuti bentuk dasar geometris bangunan, efisien dan fungsional saja. Penataan cahaya lampu yang cermat dan berseni (lampu sorot, lampu tanam, lampu gantung, lampu taman) membuat rumah minimalis tampak lebih artistik pada malam hari.

Rumah dan taman minimalis, keduanya harus berkolaborasi membentuk tatanan ruang luar, bangunan, dan ruang dalam yang seimbang (yin-yang), berjalinan secara harmonis, dan tidak saling mendominasi.

Konsep rumah dan taman minimalis bertujuan meningkatkan nilai suatu ruang keseluruhan (eksterior dan interior). Filosofi minimalis mewakili gaya hidup yang praktis, dinamis, ringkas, efektif, dan efisien, yang diterapkan dalam semua aspek kehidupan termasuk arsitektur bangunan rumah, interior ruang, dan eksterior taman. Kolaborasi rumah dan taman minimalis justru menjadi media komunikasi antara arsitektur dan lansekap dengan bentuk kekontrasannya, keras-lunak, kaku-lembut, mati-hidup, geometris-dinamis, serta antara buatan manusia (budaya) dan alam.

Konsep minimalis Barat cenderung kepada rasional fungsional yang lebih menekankan pada fungsi ruang dan ekspresi kejujuran material. Adapun konsep minimalis Timur sangat dipengaruhi filosofi Zen-Budhisme yang menekankan kesederhanaan, keselarasan, efisien, dan efektif, dan menyimbolkan kekosongan dan keheningan (nilai spiritual) agar setiap ruang yang tercipta jernih, polos, dan bening, sehingga ruang dapat dihayati kebesaran Sang Pencipta. Menjadi minimalis yang alami.

Tahun minimalis

Penataan rumah minimalis mensyaratkan keseluruhan tampilan yang harmonis, perpaduan antara material keras (beton, batu, koral, kerikil, pasir), struktur fisik bangunan dan tanaman, warna-warni eksotik, serta elemen pendukung (lampu, kolam, bangku, patung, perabot). Minimalis mensyaratkan keselarasan bahan, bentuk, warna, dan tekstur dengan kesan ingin yang disampaikan, hangat, intim, romantis, alami, atau futuristik. Permainan warna dengan tema monokromatik, seperti gradasi satu-dua warna primer, menciptakan kesatuan ruang antara rumah dan taman.

Tahun ini memang merupakan tahun rumah dan taman minimalis yang kompak, trendi, dan praktis menjadi pilihan favorit para konsumen rumah, yang dengan jitu dibaca oleh para pengembang properti. Dan masih laris manis.

Rumah minimalis akan terus berkembang seiring kreativitas arsitek, inovasi desain, dan ditunjang kecanggihan teknologi, yang hadir dengan terobosan segar, detail semakin sempurna, dan harga yang semakin terjangkau karena konsep minimalis sebenarnya bertujuan desain fungsional, esensial, dan terjangkau.

Di tengah krisis ekonomi, lingkungan, dan energi (listrik, BBM) telah mendorong berbagai kalangan (arsitek, arsitek lanskap, desain interior, produsen bahan bangunan, dan lain-lain) untuk berpikir ulang paradigma membangun yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kehadiran arsitektur hijau sebagai alternatif pilihan sebenarnya secara sadar sudah dilakukan secara individu oleh berbagai kalangan.

Bangunan dirancang dan dibangun hemat energi (minimalisasi listrik untuk penerangan dan pengondisi udara di siang hari) sesuai iklim tropis. Kreativitas dan pengoptimalan bahan dan teknologi lokal yang sudah teruji akan menghemat biaya pelaksanaan dan perawatan. Rancang bangun membudayakan pemakaian hemat air dan memaksimalkan lahan hijau sebagai sumur resapan air (kebutuhan dan suplai air bersih terjaga seimbang). Rancang bangun mengolah limbah air kotor, septic tank, dan sampah secara kolektif, terpadu, dan tuntas.

Rumah dibangun sesuai dengan kebutuhan utama penghuni rumah. Volume bangunan dijaga agar biaya pembangunan dan perawatan dapat dihemat. Perbandingan koefisien dasar bangunan (KDB, 50-70 persen) dan koefisien dasar hijau (KDH, 30-50 peresen) yang seimbang diharapkan mampu mewujudkan hunian ideal dan sehat.

Arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan (efisien dan efektif), bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Pembagian ruang efisien, fungsional, dan jelas hierarkinya.

Keterbukaan ruang-ruang dalam rumah yang mengalir dinamis diwujudkan dengan fungsi-fungsi ruang dalam rumah ditarik keluar. Ruang tamu di taman teras depan, ruang makan dan ruang keluarga di taman belakang, samping, atau di taman teras atas, serta kamar mandi semiterbuka di taman samping.

Rumah memiliki sistem terbuka yang hadir dengan teras-teras lebar yang meneduhkan (hemat pemakaian kipas angin dan AC), distribusi void-void (taman dalam, kelancaran sirkulasi udara dan cahaya), pintu-jendela tinggi lebar dari plafon hingga lantai dilengkapi jalusi (krepyak) (pasokan udara dan cahaya) dan ketinggian lantai yang rata (perluasan ruang), dinding transparan (kaca, glassblock, fiberglass, kerawang) lengkap dengan lubang angin, atap hijau (rumput, taman) disertai skylight (yang bisa dibuka tutup).

NIRWONO JOGA, Penggiat Arsitektur

Videogames: Breeding evil?

December 5th, 2005 by bov

There’s no solid evidence that video games are bad for people, and they may be positively good.

Source: The Economist, July 2005

It IS an evil influence on the youth of our country." A politician condemning video gaming? Actually, a clergyman denouncing rock and roll 50 years ago. But the sentiment could just as easily have been voiced by Hillary Clinton in the past few weeks, as she blamed video games for "a silent epi­demic of media desensitisation" and "stealing the innocence of our children".

The gaming furore centres on "Grand Theft Auto: San An­dreas", a popular and notoriously violent cops and robbers game that turned out to contain hidden sex scenes that could be unlocked using a patch downloaded from the internet. The resulting outcry (mostly from Democratic politicians playing to the centre) caused the game’s rating in America to be changed from "mature", which means you have to be 17 to buy it, to "adults only", which means you have to be 18, but also means that big retailers such as Wal-Mart will not stock it. As a result the game has been banned in Australia ; and, this au­tumn, America’s Federal Trade Commission will investigate the complaints. That will give gaming’s opponents an oppor­tunity to vent their wrath on the industry.

Scepticism of new media is a tradition with deep roots, go­ing back at least as far as Socrates’ objections to written texts, outlined in Plato’s Phaedrus. Socrates worried that relying on written texts, rather than the oral tradition, would "create forgetfulness in the learners souls, because they will not use their memories; they will trust to the external written charac­ters and not remember of themselves." (He also objected that a written version of a speech was no substitute for the ability to interrogate the speaker, since, when questioned, the text "al­ways gives one unvarying answer". His objection, in short, was that books were not interactive. Perhaps Socrates would have thought more highly of video games.)

Novels were once considered too low-brow for university literature courses, but eventually the disapproving professors retired. Waltz music and dancing were condemned in the 19th century; all that twirling was thought to be "intoxicating" and "depraved", and the music was outlawed in some places. To­day it is hard to imagine what the fuss was about. And rock and roll was thought to encourage violence, promiscuity and satanism; but today even grannies buy Coldplay albums.

Joystick junkies

The opposition to gaming springs largely from the neophobia that has pitted the old against the entertainment’s of the young for centuries. Most gamers are under 40, and most critics are non-games-playing over-4os. But what of the specific com­plaints-that games foster addiction and encourage violence?

There’s no good evidence for either. On addiction, if the worry is about a generally excessive use of screen-based entertainment, critics should surely concern themselves about television rather than games: American teenage boys play video games for around 13 hours a week (girls for only five hours), yet watch television for around 25 hours a week. As to the minority who seriously overdo it, research suggests that they display addictive behaviour in other ways too. The problem, in other words, is with them, not with the games.

Most of the research on whether video games encourage violence is unsatisfactory, focusing primarily on short-term effects. In the best study so far, frequent playing of a violent game sustained over a month had no effect on participants’ level of aggression. And, during the period in which gaming has become widespread in America, violent crime has fallen by half. If games really did make people violent, this tendency might be expected to show up in the figures, given that half of Americans play computer and video games. Perhaps, as some observers have suggested, gaming actually makes people less violent, by acting as a safety valve.

Neophobes unite

So are games good, rather than bad, for people? Good ones probably are. Games are widely used as educational tools, not just for pilots, soldiers and surgeons, but also in schools and businesses (see pages 61-63). Every game has its own interface and controls, so that anyone who has learned to play a hand­ful of games can generally figure out how to operate almost any high-tech device. Games require players to construct hy­potheses, solve problems, develop strategies, learn the rules of the in-game world through trial and error. Garners must also be able to juggle several different tasks, evaluate risks and make quick decisions. One game, set in 1930s Europe, requires the player to prevent the outbreak of the second world war; other games teach everything from algebra to derivatives trad­ing. Playing games is, thus, an ideal form of preparation for the workplace of the 21st century, as some forward-thinking firms are already starting to realise.

Pointing all this out makes little difference, though, because the controversy over gaming, as with rock and roll, is more than anything else the consequence of a generational divide. Can the disagreements between old and young over new forms of media ever be resolved? Sometimes attitudes can change relatively quickly, as happened with the internet. Once condemned as a cesspool of depravity, it is now recog­nised as a valuable new medium, albeit one where (as with films, Tv and, yes, video games) children’s access should be limited and supervised. The benefits of a broadband connec­tion are now acknowledged, and politicians worry about ex­tending access to the have-nots. Attitudes changed because critics of the internet had to start using it for work, and then re­alised that, like any medium, it could be used for good pur­poses as well as bad. They have no such incentive to take up gaming, however.

Eventually, objections to new media resolve themselves, as the young grow up and the old die out. As today’s garners grow older-the average age of garners is already 3o-video games will ultimately become just another medium, along­side books, music and films. And soon the greying garners will start tut-tutting about some new evil threatening to destroy the younger generation’s moral fibre.

CHASING THE DREAMS

IS IT a new medium on a par with film and music, a valuable educational tool, a form of harmless fun or a digital menace that turns children into violent zombies? Video gaming is all these things, depend­ing on whom you ask.

Gaming has gone from a minority ac­tivity a few years ago to mass entertain­ment. Video games increasingly resemble films, with photorealistic images, complex plotlines and even famous actors. The next generation of games consoles-which will be launched over the next few months by Microsoft, Sony and Nintendo-will inten­sify the debate over gaming and its impact on society, as the industry tries to reach out to new customers and its opponents become evermore vocal.

Games consoles are the most powerful mass-produced computers in the world and the new ma­chines will offer unprecedented levels of performance. This will, for example, make possible characters with convincing facial expressions, opening the way to. games with the emotional charge of films, which could have broader appeal and convince sceptics that gaming has finally come of age as a mainstream form of entertain­ ment. But it will also make depictions of violence even more lifelike, to the dismay of critics.

This summer there has been a huge fuss about the inclusion of hidden sex scenes in "Grand Theft Auto: San Andreas", a highly popular, but controversial, game in which the player assumes the role of a street gangster. The sex scenes are not a normal part of the game (see above for a typical image). But the offending scenes can be activated using a patch down­loaded from the Internet Senator Hillary Clinton and a chorus of other American politicians have called for federal prosecu­tors to investigate the game and examine whether the industry’s system of self­regulation, which applies age ratings to games, is working properly. Mrs Clinton accused video games of "stealing the inno­cence of our children" and "making the difficult job of being a parent even harder". 

As a result of the furore, "Grand Theft Auto" had its rating in America changed from "M" for mature (over 17s. only) to "AO" for adults only (over-18s)-by the in­dustry’s rating board. But since most big re­tailers refuse to stock "AO" titles, of which very few exist, Rockstar Games, the maker of "Grand Theft Auto", is producing a new "M" rated version without the hidden sex­ual material. This is merely the latest round in a long-running fight. Before the current fuss over "Grand Theft Auto", poli­ticians and lobby groups were getting worked up over "Narc", a game that de­picts drug-taking, and "25 to Life", another urban cops-and-robbers game.

Ironically, the "Grand Theft Auto" epi­sode has re-ignited the debate over the im­pact of video games, just as the industry is preparing to launch its biggest-ever mar­keting blitz to accompany the introduction of its new consoles. Amid all the argu­ments about the minutiae of rating sys­tems, the unlocking of hidden content, and the stealing of children’s innocence, however, three important factors are gen­erally overlooked: that attitudes to gaming are marked by a generational divide; that there is no convincing evidence that games make people violent; and that games have great potential in education.

Start with the demographics. Attitudes towards gaming depend to a great extent on age. In America, for example, half of the population plays computer or video games. However most players are under 4o-according to Nielsen a market-re­search firm, 76% of them-while most crit­ics of gaming are over 40. An entire genera­tion that began gaming as children has kept playing. The average age of American garners is 30. Most are "digital natives" who grew up surrounded by technology, argues Marc Prensky of games2train, a but do not necessarily want to commit themselves to an epic quest that will take dozens of hours to complete.

The industry, in short, is doing its best to broaden gaming’s appeal, which is of course in its own best interests. For the time being, however, the demographic di­vide persists, and it does much to explain the polarisation of opinion over gaming and, in particular, worries about violence. It also provides the answer to a question that is often asked about gaming: when will it become a truly mainstream form of entertainment? It already is among the un­der-40s, but will probably never achieve mainstream status among older people.

But aren’t critics right to worry that gaming might make people violent? Hardly a week goes by in which a game is not blamed for inspiring someone to com­mit a violent crime. After all, say critics, acting out violent behaviour in a game is very different from passively watching it in a film. Yet surveys of studies into games and violence have produced inconclusive results, notes Dmitri Williams, who spe­cialises in studying the social impact of media at the University of Illinois
. And, in a paper on the subject published in June in Communication Monographs, he notes that such research typically has serious shortcomings.

For example, studies have examined only the short-term effects of gaming. There have been no studies that track the long-term effects on the players them­selves. Another problem, says Mr Williams, is that it is meaningless to generalise about "game play" when there are thou­sands of games in dozens of genres. It is, he notes, equivalent to suggesting that all tele­vision programmes, radio shows and movies are the same. Better-designed stud­ies that measure the long-term effects of specific types of games are needed.

They’re beginning to happen. In his pa­per, Mr Williams describes the first such study, which he carried out with Marko Skoric of the University of Michigan. The study concentrated on a "massively multi­player online role-playing game" (MMORPG) called "Asheron’s Call 2".

This firm that promotes the educational use of games. He describes older people as "digi­tal immigrants" who, like newcomers any­where, have had to adapt in various ways to their new digital surroundings. Just getting by in a foreign land without some grasp of the local language is diffi­cult, says Mr Prensky. Digital immigrants have had to learn to use technologies such as the internet and mobile phones. But rel­atively few of them have embraced video games. The word "game" itself also con­fuses matters, since it evokes childish play­things. "What they don’t understand, be­cause they’ve never played them, is that these are complex games, which take 30, 40 or loo hours to complete," says Mr Prensky. Games are, in fact, played mainly by young adults. Only a third of gamers are under 18.

"It’s just a generational divide," says Gerhard Florin, the European boss of Elec­tronic Arts, the world’s biggest games pub­lisher. "It’s people not knowing what they are talking about, because they have never played a game, accusing millions of garn­ers of being zombies or violent."

Digital natives who have played video games since childhood already regard them as a form of entertainment on a par with films and music. Older digital natives now have children of their own and enjoy playing video games with them.

The gaming industry is trying to ad­dress the generational divide. It is produc­ing games designed to appeal to non-gam­ers and encouraging casual garners (who may occasionally play simple web-based games, or games on mobile phones) to play more. This has led to the develop­ment of games with a wider appeal. Some of them replace the usual control pad with novel input devices: microphones for sing­ing games, cameras for dancing and action games, and even drums. In addition, the industry has, stared to cater : more to women, who seem to prefer social simula­tion:vmes such- as w Me Sims", and to older people, who (if they play games at all) often prefer computerised versions of card _games and board games. Other pro­mising avenues include portable gaming, mobile gaming and online downloads -of simple games. Many_ people enjoy gaming type of game requires the player to roam around a fantasy world and kill monsters to build up attribute points. It is "substan­tially more violent than the average video game and should have more effect, given the highly repetitive nature of the vio­lence", the researchers noted.

Two groups of subjects were recruited, none of whom had played MMOAPGs be­fore and many of whom had never played video games at all. One group then played the game for a month, for an average of nearly two hours per day. The other group acted as a control. All participants were asked questions about the frequency of aggressive social interactions (such as ar­guments with their spouses) during the course of the month to test the idea that gaming makes people more aggressive.

Moral choices

Game players, it turned out, were no more aggressive than the control group. Whether the participants had played games before, the number of hours spent gaming, and whether they liked violent movies or not, made no difference. The re­searchers noted, however, that more re­search is still needed to assess the impact of other genres, such as shoot-’em-ups or the urban violence of "Grand Theft Auto". All games are different, and only when more detailed studies have been carried out will it be possible to generalise about the impact of gaming.

But as Steven Johnson, a cultural critic, points out in a recent book, "Everything Bad Is Good for You", gaming is now so widespread that if it did make people more violent, it ought to be obvious. In­stead, he notes, in America violent crime actually fell sharply in the 199os, just as the use of video and computer games was tak­ing off (see chart 2). Of course, it’s possible that crime would have fallen by even more over the period had America not taken up video games; still, video gaming has clearly not turned America into a more violent place than it was.

What’s more, plenty of games, far from encouraging degeneracy, are morally com­plex, subtle and, very possibly, improving. Many now. explicitly require players to choose whether to be good or evil, and their choices determine how the game they are playing develops.

In "Black & White", for example, the player must groom a creature whose be­haviour and form reflects his moral choices (get it wrong and the results can be ugly (see the illustration on the next page). Several games based on the "Star Wars" movies require players to choose between the light and dark sides of the Force, equiv­alent to’ good and evil. Perhaps most strik­ing is the sequence in "Halo 2", a bestselling shoot ‘em-up, in which the player must , take the role of an alien. Having previously. seen aliens as faceless enemies, notes Paul

Breaking Through to The Next Level

September 8th, 2005 by bov

Semangat besar sering kali menghadapi perlawanan dahsyat dari pikiran-pikiran yang biasa-biasa saja
by Albert Einstein

I never knew a man who was good at making excuses who was good at anything else
by Benjamin Franklin

Laughter is the shortest distance between 2 people
by Victor Borge

I have never met an unhappy giver
by George Adams

No one can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending
by Anonymous

Its not what happens to you — Its how you handle what happens to you that counts!
by Zig Zaglar

It is impossible for one person to hurt another without at the same time hurting himself/herself  more than anybody else.
by Emerson

A BIG man is not one who makes no mistakes, but one who is bigger than any mistakes he makes.
by Zig Zaglar

Ali Sadikin: Paling Berjasa Membangun Jakarta

August 22nd, 2005 by bov

Source: www.tokohindonesia.com
Imgsadikinali
Letnan Jenderal TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin  (Bang Ali) menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana karena dinilai berjasa luar biasa terhadap negara dan bangsa, khususnya mengembangkan Kota Jakarta sebagai Kota Metropolitan. Presiden Soekarno mengangkat putera bangsa kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini sebagai Gubernur Jakarta lantaran dianggap kopig alias keras kepala. Dia berhasil sebagai pemimpin justru karena pembawaannya yang keras itu.

Ia juga termasuk salah seorang penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail serta berbagai bangunan bersejarah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Wayang serta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.

Penyematan Bintang Penghargaan dilaksanakan pada Kamis pagi, 14 Agustus 2003 di Istana Negara. Peristiwa itu mengingatkannya pada peristiwa 37 tahun lalu. Tahun 1966, ia berdiri di depan Presiden Soekarno dalam upacara pelantikan Gubernur Jakarta. Kamis kemarin, ia berdiri di depan putri Bung Karno yang bernama Megawati Soekarnoputri dalam suatu upacara yang khidmat selama 20 menit untuk menerima Bintang Mahaputra Adipradana. Istana Negara adalah tempat yang tidak pernah diinjaknya setelah ia dijuluki oleh para pemimpin Orde Baru sebagai pembangkang.

Ia datang ke Istana Negara bersama istrinya, Linda Mangaan, dan putra bungsunya, Yasser Umarsyah (14).

Setelah upacara, ia menerima ucapan selamat berupa tempel pipi dari Megawati. Tempel pipi juga diberikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja, mantan Menteri Negara Peranan Wanita Sulasikin Murpratomo, artis film Christine Hakim, dan kelima putranya yang hadir.

Selama upacara berlangsung, Ali Sadikin disediakan kursi untuk duduk, tetapi ia tetap berdiri. Seusai upacara, Megawati mempertanyakan kesehatannya. Ali Sadikin mengatakan, kakinya tidak bisa tahan berdiri lama. Puluhan wartawan kemudian mengelilinginya. Sekali-sekali istrinya memberikan air putih. Suara Ali Sadikin di depan para wartawan masih lantang.

"Bapak sekarang sudah 77 tahun sehingga sering lupa pada banyak hal. Tapi kalau bicara soal negara, Jakarta, dan perjuangan untuk rakyat, masih sangat cemerlang," ujar putra sulung Ali Sadikin, Boy Bernadi Sadikin, tentang ayahnya.

Bang Ali, demikian ia akrab disapa, tidak menyangka mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana. Ia mendapat informasi bahwa ia dinilai patut menjadi tokoh simbol bagai pembinaan budaya dan pariwisata. "Saya heran karena saya bukan budayawan. Tapi, katanya, saya berhasil membangun Jakarta sebagai kota budaya dan kota pariwisata," ujar pria kelahiran Sumedang tanggal 7 Juli 1927 itu.

Gayanya memimpin Bang Ali dinilai cocok dengan kondisi Ibu Kota yang semrawut dan memerlukan kedisiplinan. Ternyata pilihan Soekarno tidak salah. Jenderal Angkatan Laut ini mampu menyulap Jakarta dari sekadar sebagai pusat pemerintahan menjadi pusat perdagangan sekaligus industri.

Sikap keras orang Sumedang, Jawa Barat, ini bukan cuma ditujukan kepada aparatnya yang tidak berdisiplin. Ketika memimpin Jakarta selama 10 tahun, ia juga dikenal kuat dalam mempertahankan prinsip. "Sebagai gubernur, saya harus melindungi dan menyejahterakan rakyat. Itu prinsip saya," katanya.

Caranya? Inilah yang mengundang kontroversi. Ia membuat gebrakan dengan melegalisasi perjudian. Untuk mengisi pundi anggaran daerah, Ali juga nekat mengizinkan bar dan panti pijat. Yang penting baginya, ada dana untuk membuat mulus jalan-jalan di seluruh Jakarta. Kritik keras yang datang dari para ulama tidak didengarnya.

Soal ijin perjudian tidak terlepas dari minimnya anggaran Pemda dalam upaya membangun Jakarta. Pada saat pertama kali menjabat, Bang Ali membuat rencana program pembangunan Jakarta. Saat itu dibutuhkan uang banyak untuk melakukan pembangun demi kesejahteraan masyarakat. Sedangkan anggaran Jakarta yang tersedia hanya Rp 66 juta, sementara jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa. Padahal pemerintah kolonial Belanda dulu hanya menyiapkan kota ini untuk menampung 600 sampai 800 ribu orang. Lalu, ia mengumpulkan seluruh unsur pimpinan daerah dan menjelaskan bahwa Jakarta butuh duit sangat besar.

Bang Ali bertanya ke mereka, "Saudara-saudara ini dapat berapa, sih, penghasilan dari judi? Akan saya ganti, malah bisa lebih tinggi." Mereka tidak bisa melawan. Sebab, uang dapat, tanggung jawab juga lepas. Nah, waktu itu ada empat tempat judi yang dijaga tentara. Lalu staf saya langsung mengatur, semua duit dari judi langsung masuk ke rekening bank. Dari judi ini setahun dapat sekitar Rp 40 miliar.

Selain judi, Ali Sadikin juga membuka tempat hirusan dan melegalisasi pelacuran. Namun ia mengatakan upaya itu sebagai bagian dari melayani masyarakat. Karena itu, ia berani membuka judi, steam bath, dan klub-klub, terutama untuk orang asing. Kalau habis bekerja, mereka biasanya tak mau pulang dulu, tapi pergi ke klub untuk minum kopi, setelah itu baru pulang. Pembukaan klub-klub itu dilakukan untuk melayani masyarakat kelompok ini.

Sedangkan pelacuran, karena dulu setiap menjelang malam di Jakarta bertebaran "becak komplet". Maksudnya, di dalam ada pelacurnya. Si tukang becak itulah yang menjadi makelarnya. Daripada berkeliaran dan meresahkan warga Jakarta, maka dibuatlah lokalisasi di Kramat Tunggak. Dulu, tanah yang digunakan untuk tempat pelacuran itu sudah dibeli. Anehnya, kok sekarang masyarakat yang datang belakangan menuntut ganti rugi. Itu berarti arsip bukti aset-aset Pemda itu lenyap entah ke mana sekarang.

Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang Yos. Menurut Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang kenyataannya sudah rusak akibat politik dan segala macam. Sehingga masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu lain dengan sekarang. Sekarang juga ada LSM dan segala macam.

Wataknya yang keras masih tergambar pada kerutan-kerutan wajah Ali Sadikin, yang kini berusia 75 tahun. Kondisi fisiknya mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan sekarang ia perlu memakai alat bantu dengar di telinga. Kata dokternya, berkurangnya fungsi pendengarannya berkaitan dengan penyakit ginjalnya.

Ali Sadikin memang baru saja dirawat di rumah sakit militer di Ghuang Zhou, Cina, selama tujuh bulan karena penyakit yang dideritanya. Ia bisa pulang setelah mendapat cangkokan ginjal, tapi berat tubuhnya berkurang 25 kilogram.

Yang tidak pernah surut adalah semangatnya. Apalagi bila berbicara tentang Jakarta. Dia tak lelah menjelaskan dengan runtut dan detail berbagai program yang dijalankannya selama dua periode menjabat Gubernur Jakarta. Saat menerima tugas sebagai gubemur pada 1966, inflasi mencapai 600 persen. Sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan tempat ibadah jumlahnya tidak mencukupi untuk melayani masyarakat Jakarta. Sedangkan anggaran yang ada hanya Rp 66 juta.

Pada akhir masa jabatannya tahun 1977, dia meninggalkan uang di kas daerah sebesar Rp 89,5 miliar. Juga, jalan-jalan yang mulus, penambahan ratusan sarana pendidikan dan kesehatan, terminal bus, dan pasar. Ali Sadikin juga mewariskan sejumlah bangunan penting seperti Taman Ismail Marzuki bagi para seniman, dan sebuah gelanggang mahasiswa di daerah Kuningan.

Ketika disinggung ia memiliki andil dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Ali Sadikin meluruskan bahwa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berdiri karena gagasannya bersama dengan Ny Tien Soeharto (almarhumah). "Kalau tidak ada beliau, TMII tidak lengkap. Beliau bisa memerintahkan tiap provinsi membangun paviliun di tempat itu. Itu jasa Ibu Tien," katanya.

Sementara kawasan Ancol berasal dari gagasan Bung Karno, orang yang sangat dihormati dan disayangi. Taman Ismail Marzuki berdiri untuk mengenang Ismail Marzuki yang merupakan seniman dan pahlawan. Kebun Binatang adalah salah satu tempat konsentrasi pariwisata.

Sayang, ketika Kota Jakarta genap berusia 475 tahun, tepatnya pada 22 Juni lalu, sebagian besar gedung itu telantar atau berubah fungsi. Sebagian areal gelanggang mahasiswa tersebut disulap menjadi pertokoan. Harapan untuk menjadikan Pusat Perfiliman Usmar Ismail sebagai Hollywood-nya Indonesia pun tak terwujud.

Perubahan Jakarta saat ini membuatnya merasa dikhianati. Berbagai fasilitas untuk rakyat yang sudah dibangunnya ternyata tidak dipelihara, ada yang rusah, bahkan sebagian ditukar-guling (ruilslag). Menurut pandangannya, para penggantinya sebagai Gubernur Jakarta tidak ada yang menambah fasilitas untuk rakyat.

Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro di Jalan H.R.Rasuna Said yang dimaksudkan para mahasiswa mempunyai tempat untuk kumpul-kumpul, sekarang malah diganti menjadi pertokoan. Lalu gelanggang remaja di Bulungan malah disewakan untuk swasta. Gedung Perfilman Usmar Ismail di Kuningan yang diproyeksikan menjadi pusat film semacam Hollywood di Amerika Serikat, sekarang tanahnya di-ruilslag. Dulu di tiap kecamatan juga ada balai rakyat yang bisa dipakai untuk hajatan, olahraga, dan segala macam, tetapi sekarang entah ke mana.

Meskipun kecewa terhadap kinerja Gubernur Jakarta sesudahnya, Bang Ali tidak mau melakukan penilaian itu sebagai kesalahan pribadi. Sebab, kepemimpinan seorang gubernur itu ditunjang oleh perangkat dan aparat pemerintahan.

Nasib Sutiyoso saat ini dianggapnya hampir sama dengan waktu pertama ia menjadi gubernur tahun 1966. Tetapi keadaan sekarang bukan cuma ekonomi yang bangkrut. Semuanya hancur, termasuk juga moralnya. Dulu menurutnya, koruptornya masih bisa dihitung dengan jari. Sekarang, sudh membengkak berkali lipat.

Melihat kondisi saat ini, Bang Ali teringat ramalan Ronggowarsito. Sekarang ini sudah zaman edan. Kita tidak punya tokoh untuk dicontoh, karena semuanya edan. Di samping itu, aparat juga kurang tegas. Hal ini kemungkinan karena gaji pegawai negeri itu paling cukup untuk 10 hari. Padahal, pada zaman ia memimpin dulu, gaji anggota DPRD ditentukan setidaknya 80 persen dari gaji DPR pusat.

Menangani Ibu Kota menurutnya perlu penanganan serius dan berkelanjutan. Namun hal ini tidak berarti seorang gubernur harus menjabat hingga dua kali masa jabatan. Yang penting, menurutnya, harus ada program jangka panjang, misalnya untuk 20 tahun. Selain itu, pengganti gubernur yang menjabat itu nantinya tidak sok-sokan dengan terus menggagas idenya sendiri, seolah-olah ide gubernur lama itu salah dan hanya ia sendiri yang punya ide yang benar. Mereka harus meneruskan program itu. Membina kota itu bukan membina keluarga yang bisa beberapa tahun saja.

Di tingkat nasional pun sebetulnya juga harus ada program jangka panjang. Sehingga siapa pun yang jadi presiden mempunyai pegangan. Masalah yang ada sekarang ini adalah tidak adanya program jangka panjang berskala nasional. Program pembangunan jangka panjang praktis hancur setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi sejak tahun 1997. Perumusan program jangka panjang masih terus diupayakan dan masih menjadi wacana yang belum sampai pada solusi.

Dulu Bang Ali menjabat Gubernur DKI Jakarta sampai dua periode (1966-1977). Satu tahun pertama digunakan untuk menentukan dasar-dasar pembangunan. Baru pada tahun kedua bisa menjalankan visi, misi, dan program yang telah dibuat. Kebetulan pada sat itu dirinya tidak terbawa intensitas politik nasional, jadi bisa konsentrasi pada program. Tokoh-tokoh politik nasional sendiri saat itu perhatiannya sibuk menjatuhkan Soekarno dari kursi presiden.

Selama masa Orde Baru, Gubernur DKI kebanyakan berasal dari militer atau militer yang sudah pensiun. Hal ini dijelaskannya karena kekuasaan Orde Baru itu adalah kekuasaan tentara dan Golkar. Maka bukan hanya DKI saja melainkan banyak bupati dan gubemur di berbagai propinsi di Indonesia berasal dari tentara dan Golkar. Angkatan Darat pun menjadi alat kekuasaan. Tapi menurutnya itu bukanlah kesalahan institusi Angkatan Darat. Ini adalah masalah politik. Kesalahan ada pada mantan Presiden Soeharto.

Ia juga bertanya, siapa yang melakukan perebutan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru? Tapi, sekarang apa ada masyarakat yang menuntut Soeharto untuk diadili? Yang dituntut hanya korupsi yayasan. Padahal yang dituntut korupsi itu hanya sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah itu termasuk kecil jika dibandingkan dengan utang nasional yang mencapai ratusan triliun rupiah. Belum lagi utang swasta yang banyak sekali.

Sebagai ibukota yang dikelilingi kota-kota di sekitarnya, Pemerintah DKI perlu melakukan kerja sama dalam mengatasi masalah yang saling berkaitan dengan tetangganya. Masalah yang sering muncul di DKI adalah banjir kiriman dari Bogor. Jika DKI terjadi banjir, maka gubernur tidak bisa disalahkan begitu saja. Apalagi, banjir tersebut bukan karena tingginya curah hujan di Jakarta melainkan kiriman dari wilayah yang lebih tinggi dan menyalurkan air sungai ke Jakarta.

Pada zaman Belanda terdapat sekitar 200 waduk untuk menampung air yang letaknya di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sekarang sebagian besar sudah diuruk untuk pembangunan realestat oleh bupati-bupati di wilayah itu. Tidak lagi ada koordinasi antar pimpinan daerah.

Hal tersebut juga berlaku bagi penanganan masalah sampah. Tangerang dan Bekasi tidak mau menampung sampah dari Jakarta. Padahal hidupnya Bekasi karena pengaruh dan perkembangan Jakarta. Adanya pabrik segala macam itu karena Jakarta telah penuh dengan pembangunan, maka terus merembet ke sana. Anggaran pendapatan di Bogor, Bekasi dan Tangerang sangat besar, melampaui kota-kota lain. Itu pun karena terimbas perekonomian di Jakarta. Kalau malam hari orang Jakarta tinggal di sana dan membayar pajak tanah dan rumah untuk ketiga daerah itu.

Solusinya, antara Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) itu harusnya dibuat sebuah lembaga tersendiri, dipimpin oleh seorang yang mungkin setingkat menteri. Tugasnya menyelamatkan lingkungan kehidupan. Dulu waktu Bang Ali memimpin Jakarta sudah dicoba dilembagakan, tapi baru tahap semacam kantor perwakilan di Jakarta.

Sebagai mantan perwira tinggi marinir, Ali Sadikin mengaku cukup prihatin dengan kemampuan dan kondisi Tentara Nasional Indonesia saat ini. Asrama tempat tinggal prajurit amat parah. Sementara sumbangan dari Presiden Megawati untuk asrama dipersoalkan. Ia menanyakan, apa sih sebenarnya maunya DPR itu. Bukan cuma kesejahteraan tentara yang turun, peralatan TNI pun sekarang kurang sekali. Kemampuan TNI sekarang sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia. “Apakah kita tidak malu?” tanyanya.

Penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana diperolehnya bukan karena ia sering bertemu Megawati. Justru ia terakhir kali bertemu Mega ketika masih menjadi wakil presiden. Sedangkan pertemuan dengan suami Mega, Taufiq Kiemas, terjadi ketika Taufik datang menjenguknya. Kesempatan itu digunakan untuk membicarakan nasib tahanan politik dari Angkatan Laut yang jumlahnya sekitar 300 orang. Sebagai ketua tim advokasi tahanan politik Angkatan Laut, Ali minta nama mereka direhabilitasi, karena mereka ditahan belasan tahun tanpa diadili.

Hasil pembicaraan itu dianggapnya ada kemajuan. Ada beberapa nama yang berhasil direhabilitasi, tetapi belum semuanya. Mereka itu, menurutnya, bukan PKI. “Tetapi ada pengkhianatan dan dibikin-bikin dan memang ada perintah dari atasan saat itu agar dihabiskan sejumlah orang sekian banyak. Ini yang saya perhatikan. Saya tidak ingin membawa dosa kalau saya mati. Ini kalau tidak diselesaikan, akan sampai ke anak cucu. Ini suatu kejahatan yang bukan main," demikian pidato tidak resmi Bang Ali.

Ia juga berbicara tentang nasib nama Bung Karno yang namanya belum dipulihkan karena ada beberapa Ketetapan MPRS XXXIII Tahun 1967 yang tidak dicabut. "Seperti nasib Bung Karno sekarang, DPR lepas tangan. Katanya ini enmalig, apa itu enmalig. Padahal, dalam Ketetapan MPRS dikatakan pemerintah harus menyelesaikan secara hukum.”

Menilai kehidupan saat ini yang dianggap mulai stabil, Bang Ali justru mempertanyakannya. “Apanya yang stabil? Hidup rakyat itu bukan semata-mata politik, tapi ekonominya. Dolar turun, tetapi harga kok naik terus. Orang saling bunuh, perampokan segala macam, itu karena mereka lapar.”

Untuk itu, ia meminta pemerintah lebih memperhatikan persoalan rakyat di bawah. "Sekarang berat. Negaranya dalam keadaan susah. Para politikus bertengkar terus, tidak memikirkan rakyat. Nafsunya untuk mendapatkan kekayaan begitu hebat. Lihat pegawai negeri ABRI itu (maksudnya TNI sekarang-Red), gajinya berapa? Mungkin hanya cukup untuk makan lima hari, seperti kalian wartawan. Sementara itu, beberapa orang lainnya mendapatkan penghasilan puluhan juta," ujarnya.

Bagaimana hubungan Bang Ali dengan keluarga Bung Kamo? Dengan bangga Bang Ali menanyakan, siapa yang membangun rumah untuk Megawati, Guruh, atau Sukmawati? Ia juga menjawab pertanyaan itu bahwa Pemda DKI lah yang membuat rumah mereka di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Juga izin pemilikan pompa bensin. Semua itu dilakukan ketika ia masih menjabat Gubernur DKI. Guruh Soekarnoputra pun mendapat bagian. Pemberian itu dimaksudkan sebagai bekal hidup anak mantan presiden. Ia pun membandingkan dengan anak mantan Presiden Soeharto yang sekarang punya ratusan perusahaan.

Meskipun pada waktu Presiden Soeharto berkuasa ia pernah dicekal, namun hal itu tak jadi halangan untuk menjalin tali silaturahmi. Misalnya, lebaran tahun 2001 ia datang ke rumahnya. Pada saat itu ada Ali Alatas (bekas Menteri Luar Negeri). Karena waktu itu Pak Harto sudah tidak bisa bicara, jadinya dua Ali yang ngobrol (Ali Sadikin dan Ali Alatas). Setelah itu mereka makan hidangan Lebaran.

Pencekalan itu ternyata tidak membuatnya sakit hati. Ia ikhlas, malah mengaku untung dicekal. Karena pencekalan itu anak, istri, dan dirinya sendiri tidak bisa ke luar negeri, malah bisa menghemat. Selama hidupnya, ia belum pernah bersama anak-anak rekreasi ke luar negeri. Di dalam negeri pun hanya sekali, itu pun ke Bali.

Pengalaman, ketokohan, dan kematangannya sebenarnya merupakan modal besar baginya untuk dapat mendirikan salah satu partai politik atau bergabung dengan partai politik yang sudah ada. Namun, ia tidak mau melakukan itu. Tawaran dari partai politik tidak hanya satu tapi beberapa kali datang dari partai berbeda. Namun ia menolak itu semua dengan alasan ingin mandiri.

Lain parpol lain pula dengan Petisi 50, forum diskusi kritis yang dibidaninya tahun 1980 yang menyebabkannya dicekal pemerintahan Orde Baru. Sebagai pendiri Petisi 50, Bang Ali berminat mengadakan diskusi lagi. Menurutnya, misi Petisi 50 adalah mengajarkan demokrasi yang sebenarnya yaitu untuk memperbaiki nasib bangsa. Bukan untuk jadi presiden.

Ketika ditanyakan, siapa kira-kira yang pantas menjadi presiden setelah Pemilu 2004, dengan lugas ia menjawab, “Nurcholish Madjid (sambil mengacungkan jempol).” Menurutnya, sosok Cak Nur adalah yang terbersih dan paling memiliki harapan untuk perbaikan masa depan bangsa di antara calon presiden lainnya. Bang Ali memandang positif ketika Cak Nur mengeluarkan pernyataan pembubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Karena kenyataannya yang korupsi banyak orang HMI.

Sejak tahun 1959 hingga 1977, Ali Sadikin memegang beberapa jabatan seperti Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, dan terakhir Gubernur Jakarta selama 11 tahun.

Setelah tahun 1977, namanya menjadi populer karena menjadi tokoh Petisi 50 yang menentang secara terbuka pemerintahan rezim Soeharto. Ia dicekal, tetapi tidak pernah dipenjara atau diajukan ke pengadilan.

Selama empat tahun terakhir ini ia tidak banyak melakukan kegiatan fisik, termasuk menghindari datang ke resepsi-resepsi atau ceramah-ceramah. "Ini perintah dokter dan saya berdisiplin terhadap menu makanan. Untuk datang ke acara seperti di istana ini, sebenarnya saya juga tidak diperbolehkan. Maka sebaiknya saya tidak diundang lagi ke sini," ujarnya.

Kegiatan terakhir yang banyak dilakukan adalah mengkliping koran dan menggarisi kalimat-kalimat di artikel koran dengan stabilo. Sampai kini setiap pagi ia masih terus membaca paling tidak 30 koran.

Akan tetapi, kegembiraan yang dimiliki Ali Sadikin ialah kebersamaannya setiap saat dengan putra bungsunya, yaitu Yasser Umarsyah Sadikin, murid kelas dua SMP Global Bintaro. Ini hadiah dari Tuhan yang tiada taranya. 

Proklamasi Kemerdekaan RI

August 16th, 2005 by bov

Soekarno17 Agustus 1945 tepatnya 60 tahun yang lalu, Indonesia dinyatakan merdeka dari jajahan tentara Jepang. Jepang menarik pasukannya kembali karena ledakan bomb di Hiroshima-Nagasaki yang menewaskan kurang lebih 140.000 jiwa. Moment tersebut tidak di sia-siakan oleh 5 pemuda Indonesia, mereka memaksa Soekarno - Hatta untuk mengumandangkan hari kemerdekaan RI. Soekarno - Hatta awalnya tidak ingin menyatakan Indonesia merdeka, namun mereka bersi keras sampai akhirnya mereka menculik kedua pemimpin tersebut ke Rangasdengklok. Soekarno Hatta di sembungikn pada salah satu rumah disana. Mereka memilih Rangasdengklok karena pertimbangan, kalo suatu saat ada penggeledahan dari tentara Jepang, mereka bisa membawa kabur mereka ke sungai.

Teks proklamasi di ketik oleh Sayuti Malik dan ditanda tangani oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno dan Wakil Presiden RI, Moh. Hatta di atas sebuah piano. Text proklamasi tersebut kemudian di bacakan di suatu gedung. Indonesia dinyatakan telah resmi Merdeka pada kemudian harinya, rakyat bergembira menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Gedung tempat pembacaan proklamasi, di pugar pada tahun 1961, kemudian oleh Ir. Soekarno dibangun sebuah bangunan yang diberi nama Gedung Pola. Indonesia merkeda bertepatan dengan meninggalnya WR Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya dan Merdekanya negara Gabon pada 17 Agustus 1960.

Namun Itu semua adalah awal dari perjuangan Indonesia dalam membangun bangsa dan tanah airnya sendiri. Coba kalian tanya kepada diri kalian masing2, Apakah kita sekarang sudah benar2 merdeka? masih adakah diantara kita yang hormat di depan bendera merah putih pada saat upacara 17 Agustus dengan penuh semangat berjuang, kesatuan dan gotong royong?

ESQ Power

August 15th, 2005 by bov

ESQ merupakan leadership training berbasis rukun islam dan rukun iman yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian. Menurut gw training semacam ini sangat tepat di terapkan di Indonesia, yang sedang diterpa oleh banyak krisis (energy, pendidikan, kepercayaan, politik dan sebagainya). Salah satu cara untuk mengembangkan SDM Indonesia yaitu adalah merubah mental dan pola pikir setiap individu itu sendiri. Setelah gw mengikuti training ini, gw jadi sadar ternyata orientasi seseorang dlm berusaha dan bekerja keras itu bisa saja salah dan ujungnya adalah kebahagiaan yang semu. Banyak sekali ilmu yang gw dapat dari training tersebut, yang ngga bisa gw jelasin satu persatu.

Perhatian, ESQ ini bukan seperti kita dengar2 ceramah shalat jum’at, bukan penyiaran agama Islam, bahkan Trainer2nya bukanlah ustad yang pake2 peci, bawa tazbih dan dzikir mulu, satunya tulisan arab yang ada di layar adalah tulisan Allah. Mereka membuktikan secara ilmiah berdasarkan penelitian2 yang ada sekarang dan dihubungkan dengan Al-Qur’an. Gw sampai takjub melihat kebenaran Al-Qur’an dan Hadist Rasul. Memang sih, ESQ ini kebanyakan pesertanya adalah muslim, karena basisnya itu sendiri rukun islam dan iman. Tetatpi tidak tertutup juga bagi agama lain untuk memahami apa sebenarnya isi Al-Qur’an itu.

Siapapun yang baca blog ini, lo gw saranin lo ikutan training ESQ. Ngga akan rugi, worth every penny. Untuk informasi tentang Alumni ESQ bisa dilihat di www.esqway165.com.

Sulitnya menimba ilmu

August 2nd, 2005 by bov

Hari ini gw lagi iseng jalan ke Gramedia. Tiba2 gw ngeliat
ada buku gy kayaknya lucu, sekaligus kontroversial judulnya "Pengumuman
Tidak ada Sekolah Murah" karangan Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa. Pada
awalnya mereka ingin menterjemahkan buku populer dengan judul "Shcool is
Hell" namun ditengah jalan, mereka memutuskan untuk merombak total dan
membuat sesuatu yang baru, yang disesuaikan dengan actual events yg terjadi di
Indonesia. Buku ini ditampilkan dalam format komik, tetapi harus dengan bimbingan
ortu. Makanya ada tulisan "parental advisory" pada covernya.

Menurut gw pribadi buku ini sangat bagus. Meskipun gambarnya ngga bagus, tapi
pesan yg ingin mereka sampaikan itu ngena banget, karena gw juga dulunya
mengalami hal yang sama sebagai siswa hingga mahasiswa. Ini beberapa kutipan yg
agak2 "ngena" di hati gw:

 Yang penting menyanyi!Resist_book_1

Di sekolah pelajaran
yang agak sedikit menghibur adalah mennyanyi. Dari kecil kita dikenalkan dengan
lagu-lagu perjuangan yang dibunyikan dengan suara serempak. Tiap ada up
acara,
nyanyi menjadi kegiatan wajib yang harus diikuti oleh semua siswa. Namanya
pendidikan kurang afdol jika tidak membuat seseorang bias menyanyi. Nyanyi
mirip dengan pelajaran do’a dimana setiap peserta didik harus hafal tanpa perlu
mengerti maksud dan tuju
annya. Lagi2 tidak ada pelajaran menciptakan syair lagu
karena yang harus kita lakukan adalah “menirukan” bukan menciptakan sesuatu
yang baru berdasarkan kreatifitas kita masing.

Anakku harus mampu
melakukan apa saja!

Orang tua bukan hanya
suka pamer barang tapi juga pamer anak. Apa yg dibicarakan orang tua di arisan
atau waktu kumpul2 kecuali kecerdasan anak2nya. Anak bukan saja menjadi tawanan
ambisi orang tua tetapi menjadi pelayan bagi keinginan orang tua yang tak
sempat mereka dapatkan di masa lalu. Orang tua punya anak seperti orang zaman
dulu punya binatang piaraan, diberi makan untuk kemudian dipamerkan
kecerdasannya.

The Importance of Imagination

July 19th, 2005 by bov

Half_blood_princeBeberapa hari yg lalu 16 July 2005 bisa dicatat sebagai tanggal release buku Harry Potter and The Half Blood Prince di seluruh dunia. Peluncuran buku ke-6 seri petualangan anak abg penyihir ini lebih heboh ketimbang serial ke 5, Harry Potter and The Order of Phoenix. Ada hal menarik yg barusan gw baca di Jakarta Post, 20 July 2005 page 20. Begini kutipannya:

" Rowling is now the richest woman in Britain - wealthier than even Queen Elizabeth II - with a fortune estimated by Forbes magazines at more than $1 billion."

Gila ngga sih, seorang pengarang buku anak2 yg isinya kebanyakan khayalan bisa ngelibas kekayaan Ratu Inggris. Dia perempuan biasa yg hanya mengandalkan emajinasi murni, yg dimana itu semua ngga mungkin dia peroleh dari bangku sekolah. Mana ada sih sekolah yg ngajarin muridnya untuk bikin buku tentang sihir2? apalagi di Indonesia. Gw juga melihat suksesnya buku trilogy the Lord of the Rings dan film serial Star Wars yg full imajinasi.

Setiap manusia punya potensial untuk menghayal, khususnya mereka yg ngambil jurusan design or architect atau seniman lainya, mereka harus mampu memvisualisasikan khayalan mereka diberbagai media (kertas, tv, kaos, suara dll). Kalo gw ngga mampu mengkhayal, gw ngga akan pernah mendesain rumah dan membangunnya, kalau Steven Spielberg ngga bisa mengkhayal kita ngga mungkin nonton film2 bagus kayak ET, Jurassic Park or Minority Reports, Kalau Thomas Alfa Edison ngga mengkhayal, sampai skrng mungkin kita masih hidup dlm kegelapan dan yg parahnya, kalau Bill gates dulu memutuskan untuk stay di Harvard untuk ngikutin pola pikir system pendidikan dari Professornya, dia ngga akan jadi multi-milyuner kayak sekarang. Tapi sayangnya kreatifitas untuk berkembang tersebut dibatasi oleh "believe system" yg kaku…yg sudah tertata rapih dari lingkungan kita masing2.

Gw yakin mereka2 yg punya kreatifitas tinggi sering di cap "GILA" oleh lingkungannya, bahkan ada yg di abandon. Pola pikir lingkungan dimana kita tinggal skrng terlalu ORDER, ibaratnya kotak2 aja, jadi hidup terkesan monoton. Oknum2 yg menghambat kreatifitas itu rata2 adalah (maaf) orang tua mereka sendiri, budaya, pergaulan dan hukum. Wajar saja kalo anak muda indonesia lebih banyak yg "cari aman" daripada cari tantangan baru dlm berkreatifitas, wong lingkungannya aja ngga dukung dia.  Hal ini membuktikan bahwa kreatifitas yg tinggi harus diiringi dengan mental yg kuat untuk memperjuangankan karya mereka. Karena hanya dengan imajinasi dan kreatifitas-lah, kita lebih mudah untuk berkembang dan menikmati hidup ini.

Sekarang tinggal kembali ke diri kita masing2….mau memperjuangkan impian, khayalan kita mati2an, atau mewujudkan impian orang lain, yg kita sendiri ngga bisa menikmatinya?

Resignation from ACE

July 18th, 2005 by bov

Ace_officeSetelah selama 2 tahun setengah gw bekerja di ASEAN Centre for Energy (ACE) akhirnya gw memutuskan untuk mengundurkan diri, karena gw ingin berkarir di bidang design - arsitektur. Bukannya gw ngga suka kerja di ace, tapi emang semata2 karena panggilan dari dlm diri gw aja. ACE tempat kerja yg enak, ngga jauh dari rumah gw, orang2nya sedikit dan ramah..saking nyantainya kerja disana, gw udah ngerasa ACE jadi comfort zone gw. Setelah mulai terasa boring dan no more interesting challenges, gw memutuskan untuk mengundurkan diri aja, kembali ke habitat asal gw. Lucunya, gw resign berbarengan dengan manager IT gw, Ricky. Hal ini menjadikan ACE kehilangan the whole IT dpeartment, bisa dibilang kondisi itu menjadikan ace "lumpuh" juga sih. Tapi yah, who cares, right? we need to move on. Kalo ada yg pengen tau tentang ACE, buka aja www.aseanenergy.org. Caaaooo!

Selfish-ness

July 5th, 2005 by bov

Egois adalah salah akar dari sifat buruk manusia. Karena egois itu pada dasarnya sumber pembawa malapetaka pagi pemilik sifat tersebut, semacam senjata makan tuan.  Dari sifat egois tersebut kemudian berakar menuju kemunafikan, kebohongan, pengkhianatan, bahkan pembunuhan. Hal ini sangat mudah kita temui dlm kehidupan sehari2, di dlm lingkup keluarga, teman, karir bahkan diantara sesama kekasih. Pada dasarnya sifat egois adalah sifat yg lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, tanpa memikirkan kerugian atau efek yang ditimbulkan atas tindakan tersebut.

Gw sendiri tanpa disadari juga sering sih egois. Dengan gw membiarkan anak2 kecil di pinggir jalan kelaparan, ngamen pake instrumen musik custom made (tutup teh botol, kayu dan paku) sementara gw berada di dalam mobil pake AC, denger musik kesukaan gw dan di temani gadis cantik disebelah gw. Itu aja menurut gw adalah saalah satu tindakan yang egois. Bayangkan, jarak antara gw dan anak tersebut cuma beberapa centimeter, hanya dibatasi oleh pintu dan kaca mobil. Gw sendiri sering prihatin dengan nasib mereka2, generasi penerus bangsa yang blm tentu bisa dpt kesempatan dpt pendidikan yg layak.

Tapi kalo di telaah lebih detail lagi. gw suka mikir2 tengah malam, khususnya malam minggu/weekend.
anak2 muda pada hura-hura, dugem ngga karuan, mabok sampe pagi, hambur2in uang ortu se-enak udel  utk hal2 yg blm tentu positif, malah menghancurkan diri mereka sendiri perlahan2, sementara di belahan dunia lain ada orang2 seumuran gw yang pusing mikirin besok makan apaan untuk keluarga mereka, bayar uang sekolah gimana, beli bahan bakar gimana, beli obat2an gimana. Mereka yang hura2 itu pada kepikir ngga ya? buat bantu mereka yg dibawah ini?

Andaikata gw jadi millionaire, gw pengen buka lapangan kerja sebesar2nya buat bantu mereka. Gw yakin ditengah2 mereka itu, juga banyak orang2 yg punya potensi untuk maju, jadi pemimpin dan role model. yang mereka butuhkan adalah kesempatan dan motivasi. Gw jg berharap anak2 muda jaman sekrng sadar kalo suatu saat nanti Tuhan YME bakal tanya ke kita, apa sih yg kita lakuin selama hidup yang sebentar di muka bumi ini? itu juga kalo mereka masih dekat sama yg diatas.

Apa yah yang bisa gw lakuin untuk 2 belahan dunia tersebut? Satu2nya cara, gw harus mulai dengan membenahi diri gw dulu, sebelum gw benahin hidup orang lain.